Tampilkan postingan dengan label citcat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label citcat. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Desember 2012

Fragmen Cinta Kami

Kisah Mengharukan Seorang Kakak Beradik
Gambar dari Sini



Pagi ini di angkot saya bertemu dengan sepasang kakak beradik  berseragam SD. Sang kakak -anak perempuan, usia kira kira 9 tahun, berkerudung-  duduk bersebelahan dengan sang adik - anak  laki laki, usia kira kira 7 tahun, dengan sepasang telinga besar dan bulu mata lentik-  di angkot yang saya tumpangi. Saya lihat sang kakak memegang sebuah benda mirip papan dada. Tak lama kemudian sang adik meminta benda tersebut lalu sedetik kemudian tetiba marah.

Saya tidak tahu apa yang menyebabkan sang adik marah. Sepertinya ada satu bagian dari benda itu yang hilang. Layaknya seorang adik, kemarahan yang ditujukan pada kakak adalah sebuah kewajaran karena (dalam benaknya) harusnya kakak bertanggung jawab akan semua hal tentang adiknya. Sang kakak perempuan yang menyebut dirinya Teteh, sedikit kesal dan berusaha memberi penjelasan logis tentang benda tersebut dengan serunut dan sedetil mungkin.

Hingga mereka turun dari angkot, sang adik tetap memasang muka kesal sementara Tetehnya turun sambil menuntun tangan sang adik untuk kemudian merangkulnya dan berusaha menenangkannya. Mungkin sang Kakak punya solusi untuk hal yang membuat adiknya marah.

Sedikit kejadian itu mengingatkan akan adik saya yang jarak usianya tak jauh berbeda yaitu 1.5 tahun. Saat SD, kami satu sekolah tapi jarang pulang bareng. Adik saya - sering saya panggil Aa-  adalah sosok yang nakal tapi sedikit penakut. Berbeda dengan saya yang lebih pemberani dan terhitung nekat walaupun saya perempuan.

Karena sifatnya ini pulalah, Aa sering di Bully oleh anak lelaki seusianya atau diatasnya. Sering kali Aa pulang ke rumah terlambat dari jadwal seharusnya dan akibatnya sering kena marah mamah. Dan hebatnya, dia ga pernah membantah walau dimarahi sekeras apapun dan dihukum seberat apapun. Karena kasihan, satu saat saya tanya sebab dia sering pulang terlambat. Ternyata Aa mengambil jalan memutar karena takut di cegat oleh salah satu tetangga kami yang terkenal nakal. Gawatnya lagi, tetangga kami adalah 3 orang kakak beradik dan kesemuanya laki laki. Mereka tidak segan memukul atau menendang jika sudah mencegat.

Saat itu naluri saya sebagai kakak sedikit terusik hingga marah. Tanpa pikir panjang saya lari ke rumah mereka yang berjarak 10 rumah tanpa memakai alas kaki.  Begitu sampai , saya berteriak marah sambil menyuruh mereka keluar dan mengajak mereka berkelahi jika berani. Dan ketika mereka keluar lalu berdiri berhadap hadapan, saya bergeming. Saya tantang mereka karena berani beraninya mengganggu adik laki laki saya. Tangan saya mengepal siap memukul muka atau perut mereka jika tantangan saya diladeni. 

Orang tua terutama mamah, marah besar begitu tahu kelakuan anak perempuannya. Saya kena hukuman tak diberi uang jajan selama seminggu. Dan yang paling mengesalkan bagi saya adalah, mamah mengajak saya bertamu ke rumah mereka lalu meminta maaf karena sudah membuat ribut. 

Hari ini, saya melihat kembali sedikit potongan kejadian masa lalu itu pada kakak beradik yang saya temui di angkot. Persis seperti apa yang saya lakukan dengan Aa. Sedikit berbeda, saat dewasa giliran Aa yang melindungi daan bertanggung jawab terhadap saya dan adik adik yang lain. Saat lampu rumah putus, gas dan  air mineral habis, saya tahu beres. Pun ketika lantai kamar mandi kotor, cucian piring yang menumpuk, selalu Aa yang membereskan.

Bersamanya, bercakap usai beraktivitas di rumah peninggalan orang tua kami sambil melepas lelah. Berselisih paham tentang secangkir kopi dan sebatang rokok yang kerap menemaninya. Berdebat tentang posisi tali jemuran yang selalu salah posisi. Lalu berbincang tentang hari ini, hari kemarin dan hari esok di depan sebuah kotak ajaib bernama televisi.

Empat Puluh hari yang lalu, saya masih mendengar suaranya, melihatnya terkantuk kantuk sambil mendengar murottal qur'an untuk kemudian melihatnya masuk kamar usai Isya. Hingga tiba masanya tanggung jawab saya sebagai seorang kakak usai. Saat saya,  tak bisa melindunginya dari takdir yang mengharuskannya pergi ke Sang Maha Cinta. Mencerabut semua kebersamaan yang selama ini setia menemani keseharian saya. Bersamanya.

Selamat Jalan Dik, semoga kelak kita berkumpul di JannahNya..Amiin

 





Selasa, 02 Oktober 2012

#bukankibulan

Tulisan ini bukan tandingan dari hestek #kibulansusu dan #kibulanantisusu yang saat ini lagi rame memenuhi lini massa twitter. Saya tidak akan membenarkan atau terkesan membela satu pihak. Disini saya hanya akan bercerita tentang pengalaman saya, sebagai seorang yang pernah rutin minum susu hingga 4 bulan lalu memutuskan berhenti merutinkan minum susu.

Bulan Mei 2012 lalu, saya menemukan hestek #foodcombining (FC) di lini masa twitter, dan mulai membaca tweet yang berhubungan dengannya karena penasaran. Butuh waktu lama menyerap konsep FC ini. Mengapa? karena konsepnya jelas jelas bertentangan dengan mitos dan kebiasaan yang selama ini berlaku. Misal, minum air yang dicampur  perasan jeruk lemon pagi hari saat perut masih kosong. Apa ini tak akan bikin penyakit? bener bener tukang kibul ni orang, pikir saya saat itu. Tapi walau begitu, saya tetap membaca lini  massa FC hingga saya ketemu hestek lainnya yaitu #kibulansehat  dan #kibulansusu. Dua buah hestek itu bikin saya berang. Gimana nggak berang, jika dua kibulan itu bener bener bikin saya panas dingin memikirkan pola makan dan pola hidup saya selama ini. Oia, jangan lupa, intensitas pekerjaan saya sekarang ini juga tidak kurang padat, terkadang tidur hanya 3 jam hingga saya akrab dengan kopi, teh dan cemilan  semacam gorengan, mie instan,coklat dan eskrim.

Saya berang karena pola hidup saya diserang habis habisan oleh orang yang ngakunya tukang kibul. Bukannya saya tak tahu pola hidup tidak sehat yang saya jalani, tapi saya belum nemu solusi untuk pola hidup yang lebih baik. Diet? justru saya terlalu kurus. Minum jus dan menghindari minyak minyakan? wah...ga janji deh :p. Tapi satu sisi, saya juga berfikir, Kalo emang dia tukang kibul, kenapa pula followernya banyak?? Bertentangan banget kan??

Sejak kuliah, saya sering migrain atau sakit kepala yang teramat sangat di bagian kiri kepala. Sakit ini biasanya  timbul manakala aktivitas perkuliahan dan praktikum begitu padatnya. Saya kuliah di jurusan kimia, otomatis berhubungan dengan bahan-bahan  yang berbahaya dengan resiko paparan yang lebih tinggi dibanding orang lain. Maka, untuk menetralisir paparan, saya merutinkan minum susu setiap pagi dan malamsebelum tidur.  Terlebih, saya pun meyakini bahwa agama pun menganjurkan meminum susu, makanan cair yang kaya akan nilai gizi. Hingga tak menjadi masalah, jika sarapan pun  hanya dengan meminum susu satu gelas. "Yang penting, sudah minum susu" menjadi logika pembenaran di kepala saya. Bisa dihitung, minimal dalam satu hari saya mengkonsumsi 500 ml susu.

Hingga kemudian saya  bekerja di sebuah perusahaan makanan di divisi Quality Control yang menuntut saya kembali rutin berhubungan dengan produk dan bahan kimia  mulai dari bahan  pengawet, pemanis buatan hingga penyedap rasa. Salah satu kebijakan perusahaan saat itu adalah mensupply makanan tambahan berupa 2 buah susu uht kemasan 250 ml setiap hari. Alasannya apalagi, selain untuk menetralisir bahan kimia yang terlanjur terhirup juga untuk menjaga kesehatan.

Saat bekerja, kondisi kesehatan saya sering drop. Mulai dari migrain yang sering kambuh hingga dismenorea yang kerap muncul. Sementara berat badanpun menurun drastis hingga selama 4 tahun bekerja, saya kehilangan 9kg berat badan. Padahal supply susu dan fasilitas kesehatan terhitung memadai. Akhirnya saya memutuskan keluar karena saya berfikir, berat badan dan sakitnya saya berhubungan erat dengan kondisi pekerjaan yang terlalu melelahkan. 

Saat ini saya bekerja di institusi pendidikan yang bergerak di bidang lingkungan. Disini, pekerjaan saya tak jauh dari bahan kimia , tapi tak terlalu intens  karena lebih ke tataran aplikatif. Dan saya masih tetap rutin minum susu karena itu tadi, alasan yang terlanjur mendarah daging, yaitu : Susu dapat menetralisir racun tubuh. Sementara migrain dan dismenorea pun masih tetap kambuh. Jika tak ada susu, saya kerap menyeduh minuman sekaligus makanan yang di-klaim bergizi. Maka tak heran jika lemari di ruangan, selalu penuh dengan persediaan susu uht kemasan sekali minum juga makanan seduh yang (katanya) bergizi.

Nah, bulan juni 2012 saya mulai menerapkan pola FC ini tanpa banyak tanya ke tukang kibul, karena mau buktiin dulu kibulannya. Ilmu FC yang saya peroleh hanya berdasarkan konsep sederhana yang saya pahami dari hasil baca testimoni orang orang yang sudah melakoni FC terlebih dulu. Konsep sederhana itu adalah : Memisahkan karbohidrat dengan protein, dan perbanyak asupan buah juga sayuran. Gampang kan? 

Lambat laun, saya mulai berhenti merutinkan susu dan derivatnya, termasuk keju, yoghurt. Hingga hari ini, sudah 4 bulan saya berhenti konsumsi kafein,soda dan full konsumsi air putih saja. Saya masih mengkonsumsi susu, eskrim, dan coklat tapi itupun hanya sesekali. Dan bonusnya, sudah 4 bulan ini, siklus menstruasi lancar tanpa disertai dismenorhea, migrain menghilang, tidak pernah sakit dan berat badan bertambah. Walaupun pola dan siklus pekerjaan saya masih tetap seperti dulu, tapi alhamdulillah, badan saya lebih enak, lebih seger. Banyak orang  yang bilang, saya terlihat gemuk dan segar. Mungkin pengaruh dari makanan yang saya konsumsi juga ya, buah dan sayur segar :). Akhirnya di bulan ke-3, saya haru mengakui kalo si tukang kibul emang jago ngibul tuh, dan kibulannya yang saya ikuti memberi efek positif tethadap tubuh saya. Makanya, per bulan agustus 2012, saya follow dia deh :) ssstt... sampe saat ini saya belum pernah baca bukunya tukang kibul tuh, belum niat beli juga sih :)


 Jika saat ini timbul hestek penolakan terhadap #kibulansusu yang melibatkan akademisi dan folowernya, amat sangat disesalkan. Tidak ada yang salah dengan #kibulansusu dan #kibulanantisusu jika diikuti dan difahami dengan benar. #kibulansusu tidak menganjurkan orang untuk TIDAK BOLEH MINUM SUSU, tapi lebih menekankan untuk TIDAK RUTIN MINUM SUSU. Telisik bedanya. Hal ini terlepas dari alasan pencernaan atau tidak. Toh, logika kita harus jalan, jika untuk pemenuhan nutrisi berupa vitamin, mineral terutama trace element, kenapa kita tak memilih buah dan sayur segar saja? bukan pabrikan, bukan olahan dan tak perlu di-fortifikasi. Sekedar informasi, menurut penelitian, hampir 60-75% sampah yang masuk TPA adalah sampah organik, termasuk sayur dan buah. Lihat, betapa banyak sayur dan buah segar yang tak dikonsumsi hingga tak bisa dimanfaatkan :(

Adalah tanpa alasan, jika saya sebagai muslim menafikan kebenaran tentang kayanya kandungan gizi susu. Semua yang tercantum dalam kitab suci benar adanya. Tak perlu diragukan. Lalu, yang harus diluruskan adalah pemahaman kita sendiri, dan keterbaruan informasi. Bukankah agamapun menyarankan untuk membaca, mencari ilmu dan jangan sampai memilah ilmu hanya berdasarkan "siapa yang berbicara" tapi lebih ke "apa yang dibicarakan siapapun" selama itu demi kebaikan. 

Jadi, saran saya, ikuti apapun yang anda yakini benar dalam koridor ilmu. Tidak perlu saling serang dan bela diri. Jika memang masih mengonsumsi susu dan produk derivatnya, jangan dikonsumsi BERLEBIHAN, karena segala sesuatu yang (walaupun) sehat jika dikonsumsi berlebih akan membahayakan kesehatan. Ingat konsep halalan thayyiban dalam islam. Usahakan konsumsi produk tanpa bahan pengawet dan perasa tambahan apalagi pewarna. Hal ini relatif lebih sulit karena produk pabrikan biasanya selalu memakai salah satu atau 3 hal tersebut, kecuali sayuran dan buah segar ya. Terakhir, perbaiki pola metabolisme tubuh dengan pola hidup yang lebih sehat. 

Efek sehat yang saya rasakan sekarang bukan karena faktor saya berhenti merutinkan minum susu. Berhenti merutinkan minum susu hanya satu pola yang saya tempatkan sebagai tidak berlebihan dalam mengonsumsinya. Selain pola tidak berlebihan, efek sehat itu juga terbantu banyak oleh  pola makan dan pola metabolisme yang  'dipaksa' untuk teratur, termasuk tidak memasukkan zat aditif dan kafein ke dalam sistem pencernaan. Tidak membebani pencernaan berarti tidak mendzalimi  tubuh saya, sesuai aturan agama.

Yuk, kita rutinkan pola hidup sehat sejak saat ini karena mengonsumsi buah dan sayur sama baiknya dengan mengonsumsi susu tentunya dalan takaran yang tepat, alias tidak berlebihan :)






Jumat, 27 Juli 2012

Perempuan itu...

Dulu, saat saya masih SMP, bulan ramadhan adalah bulan yang menyiksa. Alasannya karena saat itu saya sudah dapat 'cuti bulanan' sebagai seorang perempuan alias saya sudah baligh. Lho, bukannya enak karena ga puasa? alasannya sama sekali bukan itu.

Alasan utamanya adalah mamah (almh) mengharuskan saya untuk selalu rutin bangun sahur dan berbuka setiap adzan maghrib bergema. Bahkan dalam keadaan tidak shaum sekalipun. Saat itu alasan beliau hanya satu, biar adik adik saya (laki laki semua) tidak protes saat tahu kakaknya ga ikutan bangun sahur. Jamaknya anak kecil, pasti akan sulit saat dibangunkan makan sahur. Lalu giliran mereka bangun untuk makan, mereka pasti protes begitu tahu kakak perempuannya tidak hadir dan tengah tertidur dengan nyenyaknya. Saat itu karena masih kecil,saya tidak pernah menyadari jika beliau sedikit kesulitan menjelaskan alasan kenapa kakak perempuan mereka tidak shaum. Maklumlah, jaman itu masih sedikit tabu membicarakan hal mengenai perbedaan laki laki dan perempuan dalam konteks reproduksi.

Akibat dari kebijakan beliau yang sedikit tidak adil (pikir saya waktu itu) pada anak perempuannya, maka sejak SMP hingga 2 tahun lalu, dapat dipastikan kehadiran saya saat jam sahur dan buka adalah wajib. Tapi bukan berarti saat siang hari saya tidak makan apapun. Makan dan minum pasti bisa, tapi harus sembunyi dari intaian adik laki laki saya. Kebiasaan ini secara tidak langsung terbawa hingga saat ini. Walaupun sedang tidak shaum, saat di rumah saya berlaku layaknya orang yang shaum. Paling tidak, masih bisa mencicipi menu buka saat di dapur.

Lalu, muncul kejadian yang memutarbalikkan keadaan hingga saya harus mengambil alih peran mama yang selama ini sentral. Saya harus bertransformasi dari seorang anak yang tahu beres ke seorang anak yang harus membereskan semuanya. Bedanya nyata sekali. Kerepotan dunia rumah harus berdampingan dengan dunia kerja yang selama ini dijalani. Jungkir balik, keteteran hingga ingin menyerah timbul teramat sering.

Dan ini adalah shaum pertama tanpa mama, shaum kedua saya meng-handle urusan menu makan sahur dan berbuka puasa lengkap dengan proses yang teramat melelahkan. Saya banyak bersyukur untuk keputusan mamah saat saya kanak kanak itu. Pesan yang tersirat nya baru bisa saya tangkap sekarang : Menjadi perempuan itu berat, maka kamu harus berlatih. Ya, saya berlatih mengesampingkan rasa sakit saat datang bulan dan memilih untuk bangun mempersiapkan sahur. Saya berlatih bertanggung jawab saat rasa letih akibat beban kerja begitu dominan dan memilih bangkit untuk menyiapkan hidangan sahur dan berbuka demi adik adik saya.

Ya, menjadi perempuan itu berat..
Kamis, 19 Juli 2012

Balada di Awal Shaum

"Shaumnya kapan, Jumat atau Sabtu?"

Pertanyaan itu selalu terdengar saat bertemu orang orang di kantor dan sekitaran rumah. Tapi tenang, kali ini saya tidak akan membahas perbedaan awal Ramadhan, terlalu berat buat saya :)

Seperti biasa, ibu ibu adalah kaum yang selalu paling riweuh dalam hal ini. Mulai dari penentuan kapan awal shaum, menu buka-sahur,kenaikan harga sembako sampai diskusi kue lebaran. Bukannya sok kalem dengan ga mau ribut, tapi untuk hal hal tersebut saya lebih banyak ngikut aja. Ngikut karena saya juga tak bisa berbuat banyak untuk masalah harga sembako apalagi kue lebaran. Untuk urusan buka-sahur juga hanya menyediakan bahan yang mudah untuk disajikan seperti tahu,tempe,telur,sosis,bakso, kornet dan mie instant. Kenapa? ya, karena hanya bahan bahan itulah yang terhitung sedikit awet, mudah dimasak dan sangat membantu jika waktu sahur mepet :D

Nah, tadi pagi saya beli telur ayam 1kg dipasar seharga Rp18.500,00 setelah seminggu yang lalu masih kisaran Rp16.000,00. Ya udahlah, namanya juga butuh ya dibeli. Sementara harga Ayam Broiler menyentuh Rp32.500 per kg, tapi tidak saya beli. Saat tiba dikantor, salah satu teman memberi info jika di supermarket "G" harga ayam broiler utuh hanya Rp24.350 dan daging semur Rp64.000 per kg dan berlaku hannya sampai hari ini. Info ini membuat histeria massa makin menjadi jadi. Mendadak para ibu-ibu di kantor berduyun duyun menuju supermarket "G". Bisa dipastikan, saya yang belum menjadi ibu ibu pun terpaksa menjadi follower karena resikonya pasti ditinggal sendiri di jurusan :(

Dan benar saja, di TKP (tempat kejadian perkara) tepatnya bagian daging, ibu ibu begitu riuh berdesakan demi ayam broiler utuh dan daging semur. Sedikit tergoda saya membeli daging semur untuk stok atau apapun, lalu membeli bumbu balado+bumbu semur (instan ). Begitu sampai di kasir, jumlah belanjaan saya paling sedikit dan paling enteng. Tak ada ayam broiler utuh,minyak goreng, telur ayam seperti para ibu yang saya antar. Begitu mereka tahu, saya berargumen bahwa saya malas membeli ayam utuh karena ga punya pisau besar untuk motongnya, ga beli telur ayam karena sudah beli di pasar tadi pagi, ga beli minyak karena stok masih ada di rumah. Lalu mereka pun tersadar mengenai ayam utuh yang belum dipotong potong. Sesaat kebingungan melanda. Dan akhirnya..mereka mengembalikan ayam tersebut ke tempat asalnya alias ga jadi beli hehe


Banyak pelajaran yang diperoleh saat belanja bareng mereka hari ini. Salah satunya, menjadi seorang perempuan itu harus pandai. Pandai mengontrol diri, pandai memilah mana keinginan dan kebutuhan, pandai menahan diri dan pastinya pandai memasak :)

Selamat Shaum Ramadhan, semoga semua niat dan gerak kita tetap terangkum dalam bingkai ibadah padaNya. Semoga Allah memudahkan ibadah kita. amiin



Senin, 09 Juli 2012

Menendang Pejalan Kaki di Trotoar : Arogansi Pengendara Motor

Pagi ini saya terjebak macet parah saat hendak menuju kantor. Kemacetan panjang ini mungkin disebabkan penambahan volume kendaraan karena hari ini adalah hari pertama anak anak kembali bersekolah. Saat angkot yang saya tumpangi berhenti karena tak bisa bergerak lagi, waktu menunjukkan pukul 07.55 wib dan jarak ke kantor masih sekitar 500 meter. Saya memutuskan untuk turun dan berjalan kaki menuju kantor, mengingat saya juga harus mengawas ujian anak anak.

Saya berjalan kaki di trotoar sepanjang Jalan Katamso Bandung. Melewati SPBU depan kompleks TNI AD, pengendara motor mulai memenuhi ruang pejalan kaki, tapi tak sampai naik ke trotoar karena ujung trotoar lain tidak ada turunan. Saya masih bisa berjalan nyaman melewati Mesjid Jendral Soedirman. Tiba di depan tempat Pencucian Mobil Orlen, trotoar terputus karena digunakan untuk jalan keluar masuk mobil.

Sesaat kembali saya naik trotoar tepat di sebelah jalur keluar Pencucian Mobil Orlen dan melanjutkan berjalan kaki. Baru dua langkah berjalan di atas trotoar, sebuah sepeda motor membunyikan klakson tepat di belakang saya dengan roda depan yang hampir menyentuh badan saya. Saya bergeming karena saya merasa tidak salah berjalan di trotoar dan tidak tahu harus kemana lagi saya menepi. Karena dia memaksa dengan terus membunyikan klakson, dan tetap melajukan kendaraannya, saya menepi hingga badan saya miring ke tepi trotoar. Bersamaan dengan kendaraannya melintas ke depan saya,tanpa di duga pengendara motor (laki laki usia >40 tahun) menyorongkan kaki kirinya dan menendang saya. Maksudnya mungkin agar lebih memberikan ruang yang lebih besar lagi agar dia bisa lewat. Tapi, saya sudah tidak bisa minggir lagi,karena sebelah saya adalah pepohonan.

Refleks, saya mendorong sang pengendara motor yang baru saja menendang  badan saya hingga dia oleng dan hampir jatuh. Saat dia hendak melancarkan aksi turun dari motor dan melakukan aksi selanjutnya, datang seorang pengendara motor lainnya yang seketika mencekal baju bapak yang menendang saya. Lalu memarahinya dan menuntutnya untuk meminta maaf karena telah berani menendang perempuan.

Satu hal yang saya soroti, dimana lagi seorang pejalan kaki harus berjalan dengan aman dan nyaman? Jika saat kemacetan berlangsung, akses trotoar -yang jauh dari nyaman- pun diserobot pengendara motor. Lalu dimana lagi kami harus berjalan? Bukankah kami sudah berjalan di jalur yang benar? Menurut UU No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas,angkutan darat dan jalan,trotoar diperuntukkan hanya untuk pejalan kaki. Dan saya teramat yakin, jika para pengendara motor pun tahu akan hal ini.


Jika pengendara motor yang memaksa naik ke trotoar dan mengambil hak pejalan kaki sudah masuk kriteria mengganggu fungsi perlengkapan jalan, maka dia bisa dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta. Tidak percaya, silakan baca UU no 22 tahun 2009 tentang lalu lintas, angkutan darat dan jalan.

Saya mencermati jika para pengendara motor ini begitu arogan. Di setiap perempatan jalan, saat lampu merah kita bisa melihat mereka bertumpuk dan berjejalan hingga melewati batas marka jalan. Lalu saat lampu menyala hijau, mereka seolah -olah berlomba mengadu kecepatan hingga tak jarang saling beradu dan jatuh. Dan seringkali, faktor kemacetan total adalah karena melubernya pengguna motor hingga tak menyisakan ruang untuk kendaraan lain. Atau kali lain, mereka dengan seenaknya menantang arus lalu lintas kemudian dengan lantangnya meminta minggir sambil memelototi kita yang berdiri menunggu untuk menyebrang jalan. Dan ternyata saya mendapat satu lagi contoh ke-aroganan mereka, yaitu menendang pejalan kaki yang berjalan di trotoar.

Saya tidak berniat sedikitpun mem-pidanakan pengendara motor yang menyerobot akses trotoar dan kemudian menendang pengguna jalannya. Walaupun jujur, saya teramat ingin agar bapak itu tahu, betapa menyakitkan perlakuannya. Saya bisa saja berdoa agar anak atau istri sang bapak mengalami hal yang sama dengan apa yang saya alami. Tapi saya tidak melakukan itu. Saya hanya ingin, kita semua saling menghormati, menghargai hak dan kewajiban orang lain. Hal yang sekarang sulit sekali didapatkan di ranah apapun di negeri kita.



gambar diunduh dari sini







Senin, 02 Juli 2012

Dunia Baru

Jika selama ini jatah hari hari selalu dihabiskan di kantor mengurusi anak-anak, maka hampir tujuh bulan terakhir ini ada hal baaru yang saya lakukan. Selain mengantor, saya juga mulai mencoba terjun ke dunia jual beli atau berdagang yang jujur saja, saya teramat awam untuk hal satu ini. Bagaimana tidak awam, jika dari silsilah keluarga, leluhur saya tidak ada satupun yang terjun menjadi wirausahawan. Semuanya menjadi orang kantor, dengan profesi yang beragam dan selalu menjadi konsumen. Jadi, manakala saya memulai berdagang, saya sih mikirnya cuma iseng karena ada pasar yang melimpah dan potensial di sini.

Ya, pasar yang melimpah dan potensial itu adalah mahasiswa dan rekan di kantor saya. Awalnya karena faktor ketidaksengajaan saat saya meminjam komputer tata usaha jurusan. Ngobrol ngalor ngidul, dan akhirnya saya terjun jadi pedagang. Dan, hari ini  Alhamdulillah genap tujuh bulan sudah saya berprofesi jadi penjual sepatu . Ya, saya menjual sepatu yang sedang happening di dunia gaul anak muda yang punya merk buaya Dan saya tak sendiri, melainkan berjualan berdua dengan sahabat saya, Shinta.

Awalnya, kami hanya menunggu kiriman barang dari saudara-nya Shinta yang berdomisili di Jakarta. Tapi resikonya, waktu tunggu menjadi lebih lama karena stock barang yang tak menentu. Akibatnya saya kena komplen konsumen. Hal ini membuat kami pusing dan kerepotan karena kami tidak tahu link untuk mencari stock back-up. Akhirnya, saya mengambil keputusan untuk  mengambil barang langsung ke Jakarta tanpa melalui saudara Shinta, tentunya dengan terlebih dulu meminta link-nya.  Nah, fase kedua ini kami bolak balik Bandung-Jakarta-Bandung setiap akhir minggu. Siklus rutin ini kami jalani hampir 3 bulan lamanya hingga saya kelimpungan dan kerepotan karena kesibukan kantor yang mulai butuh perhatian lebih.

Saya teramat kebingungan terutama mengingat  jumlah barang yang diorder terkait dengan akomodasi juga waktu. Kembali kami putar otak. Selama dua minggu penerimaan order di -stop karena belum ketemu cara yang pas. Hampir hampir saya menyudahi bisnis ini karena merasa tidak memungkinkan jika diteruskan. Selama dua minggu itu kami berdua kerjanya hanya refreshing dan jalan jalan tak tentu arah. Tetapi justru pada saat tak tentu inilah Allah menunjukkan jalan keluar yaitu mempertemukan kami dengan pemilik gudang besar yang berdomisili di bandung. Subhanallah..

Sejak bulan maret itu kami berhenti dari rutinitas pulang pergi bandung-jakarta-bandung. Jadwal pekerjaan di kantor yang mulai padat membuat saya berkonsentrasi penuh di kampus dan menyerahkan pengadaan barang ke Shinta. Jadinya, kami berdua yang sejak awal bergerak bersama, kemudian memutuskan untuk membagi tugas. Saya yang menerima dan mengumpulkan pesanan, dia yang mencari  dan memastikan barang itu sampai ke yang memesan. Perkara uang, itu saya percayakan ke dia karena saya tahu persis kalau saya tidak seteliti dan se-well organized dia *angkat topi*

Lalu saya mulai memanfaatkan jejaring sosial sebagai media jualan. Facebook menjadi satu alternatif pilihan karena isinya adalah orang orang yang kami kenal. Jadi kami tidak membuat account baru. Alhamdulillah, pesanan sudah mulai lancar dan tidak ada masalah yang membuat kami merasa sulit karena semua bisa teratasi.

Menginjak bulan ke empat, kami mulai memberanikan diri untuk memulai strategi baru yaitu berjualan menggunakan kendaraan hingga lebih dekat ke konsumen. Sebenarnya, kami sempat ketar ketir karena berjualan kaki lima itu butuh semangat dan keberanian yang lebih. Mental kami (saya maksudnya  ) diuji langsung di lapangan. Tapi, bismillah, di awal bulan april kami berdua mulai memberanikan diri bergerilya di lapangan setiap ahad pagi menggunakan mobil starlet. Saya ingat, saking gugupnya karena kedatangan konsumen pertama, Shinta sampai salah memberikan harga hingga akibatnya kami merugi. Belajar dari pengalaman pertama, kami berbagi tugas lagi. Saya kebagian bercuap cuap dan berhadapan dengan konsumen sementara Shinta, kebagian jaga barang dan tak berhak untuk melakukan transaksi

Dan genap tujuh bulan sudah kami berdua menjadi pedagang dan dua bulan menjadi pedagang kaki lima yang stand by di lapangan menunggu pembeli sejak pagi buta. Udara Bandung yang dingin menusuk tulang tak membuat kami berhenti bergegas tetapi sebaliknya, membuat kami ingin melawannya. Teriknya matahari yang membuat kulit muka kami gosong tak membuat kami surut tapi sebaliknya membuat kami ingin menantangnya. Karena kami mulai menikmatinya. Menikmati lembar demi lembar rupiah yang kami hasilkan dari keringat dan lebih dari itu menambah rasa syukur atas semua nikmat dan kemudahanNya yang kami terima selama kami bernafas.

Inilah dunia baru yang memberikan saya pelajaran berharga tentang kerangka sabar yang utuh. Kebersandaran pada yang Mahaesa, bukan pada makhlukNya. Alhamdulillaah..
Jumat, 27 Januari 2012

-tulistulis-

hmm.. tiba tiba saya tergelitik nulis tentang hal ini.

saya memulai menulis cerita saat SMA. Waktu itu saya punya satu buku tulis khusus untuk nulis semua cerita saya -tentang apapun- seukuran folio bergaris. Tak ada hal yang menonjol dengan buku itu. Disampul coklat, dan plastik tak berwarna, lebih mirip dengan buku tugas sekolah daripada diary pada umumnya yang berwarna pink, atau biru plus wangi.

Kebiasaan itu berlanjut hingga kuliah. Saya menulis di belakang kertas bekas fotocopy-an yang masih kosong, atau bahkan saya menulis di kertas bekas ujian. Kertas kertas itu lalu saya susun untuk selanjunya di bikin kliping.

Saat mulai bekerja, saya masih juga melakukan hal itu. Tapi ada sedikit kemajuan. Saya mulai menulis di depan komputer alias mengetik. Dirumah, sepulang ngantor, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, hanya untuk menulis apa yang ada di kepala saya. Lebih sering tulisan itu tak berawal  dan tak berakhir. Atau sering awalnya tak bertemu dengan ujung. Bahkan terlampau banyak tulisan yang tak berujung pangkal. Semuanya saya tulis lalu saya simpan, walau hanya dua baris kalimat aneh tak nyambung. Jika mata saya sudah perih, maka saya matikan komputer dan kembali mengambil buku tulis -bukan buku diary- lalu iseng coret coret dan menulis hingga jatuh tertidur.

Sekarang, saya baru menyadari ada yang berubah. Saya lebih nyaman menulis dengan cara mengetik.  Saya tidak bisa lagi menulis di buku tulis seperti bertahun tahun lalu sering saya lkukan. Lucunya, jika saya paksakan memegang pisil atau bolpen dengan buku tulis di hadapan, otak saya kosong. Saya bingung mau menulis apa. ujung ujungnya hanya coretan berupa garis tak beraturan, kelopak bunga, atau bahkan bergulung gulung benang kusut yang dengan sukses memenuhi berlembar lembar kertas.

Berbeda jika saya di depan komputer. Saya bisa menulis lancar, dengan isi kepala yang seolah berjejal tak sabar ingin dikeluarkan. Kata kata itupun berhamburan begitu saja, berceloteh dengan arus yang begitu deras.

Dan ini yang lebih mengherankan lagi. Saya bisa menulis dengan hati yang ringan, mood yang 'dapet' dan suasana yang nyaman jika saya berada di ruangan kantor. Tidak percaya? ini adalah tulisan pertama yang saya unggah saat saya sedang berada di rumah. Setelah mengalami kesulitan mencari kata pertama yang memakan waktu 1 jam, saya baru bisa menulis. TApi jika saya berada di kantor, di tengah himpitan tugas dan pekerjaan yang menumpuk, saya hampir selalu bisa menulis.

hmmm... kenapa ya?





Kamis, 29 Desember 2011

Jeda

Sebulan ini saya bermasalah dengan beberapa mahasiswa. Saya tidak mau menjustifikasi, tapi situasi ini memaksa saya merunut kembali metode yang saya pakai.

Periode semester ini dimulai tak lama setelah saya usai menyelesaikan final project sehubungan dengan study saya, tepatnya bulan oktober. Sejak saat itu beban pekerjaan di kampus dan pekerjaan lainnya datang tanpa jeda. Saya diserahi mengawasi 9 mahasiswa yang sedang penelitian tugas akhir, dan 2 shift praktikum yang dibantu 2 asisten baru. Sementara pekerjaan lain sehubungan dengan aplikasi ilmu di luar kampus. Sekedar membantu sahabat saya menyiapkan materi pelatihan dan sedikit pekerjaan teknis lainnya.

Sejauh ini pekerjaan kampus dan lainnya dijalani dengan lancar tanpa kendala berarti, Alhamdulillah. Tapi, mendadak menjelang libur akhir tahun, saat praktikum terakhir, emosi saya terpancing. Saat satu praktikan  protes mengenai waktu pengumpulan laporan praktikum dengan cara yang "menurut saya" sedikit frontal. Frontal dalam artian, nada suara yang meninggi di akhir kalimat diiringi dengan bahasa tubuh yang "sedikit" meng-intimidasi dan pandangan mata marah. Sempat ingin membalas, tapi saya segera Istighfar dan mengubah posisi ke arah lain. Usai praktikum, dia masih sedikit emosional terhadap saya.

Yang kedua, seorang mahasiswa tugas akhir yang menganggap segala sesuatu mudah. Seperti sebelumnya, setiap kali seorang mahasiswa yang mengambil tema penelitian laboratorium, maka dia harus mematuhi semua aturan yang sudah saya buat. Salah satunya adalah pengajuan rencana kegiatan dan jadwal yang harus disepakati bersama. Hal ini menyangkut kondisi dan situasi di laboratorium yang "unpredictable". Dan hampir 4 tahun, semua berjalan tanpa masalah. Lalu tiba tiba, kenapa kali ini dia seolah olah meng-konfrontasi saya dengan pembimbing utamanya? ujung-ujungnya saya harus bolak balik menjelaskan semua prosedur dan aturan yang diberlakukan pada pembimbing utamanya. Yang membuat saya kesal adalah, sang mahasiswanya sendiri masih merasa tak bersalah dan merasa semua hal baik baik saja. Astaghfirullah,,,

Situasi dan kejadian ini membuat saya tak habis pikir. Apa seperti ini attitude mahasiswa sekarang? Ataukah metode saya yang kolot dan tak sesuai lagi dengan zamannya? Lalu, apa sih metode yang sesuai dengan zaman ini?

Jujur, saya merasa lelah yang teramat sangat...Mungkin yang saya butuhkan hanya sebuah jeda.
Rabu, 21 Desember 2011

Will You Still Love Me

hmm.. atmosphere beberapa hari ini jadul banget. Gara gara beres beres barang, trus nemu kaset lama, covernya peter cetera jaman masih ganteng. hehe. jadu aja keingetan Chicago, band jadul yang lagunya enak enak pisan. Salah satunya Will You Still Love Me.. yang ga dinyanyiin ama peter cetera. kenapa? iyalah.. dianya keburu lengser dan milih solo karier. Mirip ama Phill Collins ama Genesis-nya dan Sting dengan The Police-nya.

Tapi, gimanapun, tetep enakeun

cekidot ajalah disini dan selamat menikmati atmosfer yang jadul :D

Rabu, 28 September 2011

Cincin = Legalitas ?

Sudah 3 hari ini saya ngisi materi di sebuah pelatihan tentang Environmental Analysis. Pesertanya para pria dari sebuah perusahaan minyak milik asing di daerah sumatera ya.. sekitar 20 orang lah. Kenapa pria? ya.. karena ini menyangkut pekerjaan lapangan dan teknik sampling bla bla bla.

Pemberi materi ada 3 orang dan dua diantaranya adalah perempuan (termasuk saya). Saat awal pertemuan, sedikit deg-degan tapi alhamdulillah lancar.

Hari kedua, suasana mulai mencair. Pelatihan lebih banyak acara ketawa ketiwi, tapi bukan berarti materi tidak tersampaikan. susah sih ya.. dengan kondisi ngantuk karena lapar atau ngantuk karena kekenyangan menyampaikan materi biar ga bosenin. solusinya ya.. dibikin sedikit santai.

Tapi santai ini ternyata sedikit jadi bikin boomerang buat kami pemateri berjenis kelamin perempuan. Saya tahu,maksud bapak-bapak itu bercanda, tapi candaannya sedikit bikin jantung naik ritme dan muka memerah. Pasalnya, mereka menanyakan status kami berdua (yang masih single). Berbagai bahan elakan mulai dengan kata kata becanda lengkap dengan senyum menghiasi hingga kalimat serius dengan garis bibir sedikit ditarik *untung ga melengkung*, tetep nggak mempan.

Serangan bertubi-tubi ini menggila saat coffer break dan makan siang berlangsung. matilah kami berdua. Bahasa diplomatis pun adi jurus ampuh. tidak ada kata iya atau tidak yang keluar dari mulut kami *cari  aman*. Saat mereka bertanya tentang status dan dikaitkan dengan keberadaan cincin yang -belum- melingkar di jari tangan kami berdua, kami berkilah bahwa cincin bukanlah satu bukti legalitas bahwa kami sudah tidak single.

Dan para pria itu terdiam. tapi ujung-ujungnya "ya udah deh, besok mba bawa surat nikahnya ya.. biar saya tahu mbak udah nggak single" sambil nyengir.

Kita berdua : mati gaya

Selasa, 12 Juli 2011

anak { kos } mamah ??

Kemarin pagi -berwajah bantal dan bermata panda- menggendong ransel di pundak bertemu dengan seorang ibu di ujung gang. Karena kami berpapasan muka, maka saya tersenyum -walaupun saya tidak kenal- padanya. Dan tiba tiba ibu itu bertanya : " Neng, kemana aja. Nge-kost ya sekarang? ga pernah keliatan" . Dapet pertanyaan seperti itu saya kaget. Lalu saya jawab " ada aja bu, nggak nge-kost. Masih tinggal sama mamah"  Lalu semuanya selesai.

Dan, sore menjelang malam -kira kira bada maghrib- saya masih menyusuri jalan menuju rumah. Di belokan, berpapasan dengan seorang tetangga yang jadi Ibu pengurus RT. Dan kembali terjadi percakapan singkat : " Baru pulang neng? Pasti mau nengokin mamah ya?" Dan kening saya mengkerut, sambil jawab " iya ibu, baru pulang kantor. Saya tiap hari pulang bu, kan masih tinggal sama mamah"  Ini yang mengejutkan saya.. Ibu itu sedikit kaget lalu balik berkata " Aduh, kirain teh udah ga tinggal ama mamah. Maaf ya  neng... abisnya jarang - alias tidak pernah- keliatan.  Maafin ibu ya.."
 
Sampai ke rumah, terus cerita ama mamah tentang kejadian pagi dan sore itu. Mamah sih jawabnya singkat " yaaa.. pergi subuh, pulang malem. Giliran libur juga nggak pernah keluar. Resiko kalo tidak dianggap warga sini lagi" 

wew ah.. jangan jangan selama ini aku dianggap anak kos yang tinggal di rumah mamah, alias bukan anaknya.. *toyorjidatsendiri* #amitamit
Rabu, 15 Juni 2011

mereka memanggil saya IBU..

Hampir setiap saat saya mendengar kata IBU setiap kali  berpapasan dengan mereka. Tepatnya sejak maret ini, mereka memanggil saya IBU. Jujur, rasanya sedikit aneh dipanggil dengan nama itu. entah kenapa-mungkin merasa saya belum ibu ibu?- padahal, jarak usia mereka dengan saya pun terhitung jauh.

Inilah mereka.. Mahasiswa Angkatan 2010, semester awal perkuliahan, yang memanggil saya IBU dengan setia




Begitu ingat umur mereka yang baru menginjak 17-18 tahun, saya akhirnya menerima sebutan IBU. Karena saat mereka lahir, saya sudah mahir membaca dan menulis, juga sudah bisa naik angkot sendiri *apa hubungannya coba?? nggak mau ngaku aja kalo umurnya udah dewasa banget *








Jumat, 11 Maret 2011

Caper

Pagi ini saya  ngantor telat -lagi-

Bukan ngarang alasan sih, tapi ada Apih (kakek) yang lagi kangen ama cucunya ini. Hampir  3 bulan ini apih tinggal bareng adik mamah karena di rumah kami nggak ada yang ngurus. Masalahnya, mama sakit sakitan jadi ga bisa kasih perhatian penuh buat apih.

Nah, tadi malem apih nginep di rumah. Tapi semaleman itu saya ga ketemu karena pas nyampe rumah, apih udah tidur. Giliran pagi ini begitu ketemu.. hadooohhh... kerepotan!!

Gimana ga repot, bada shubuh apih udah minta dibikinin teh manis dan air panas untuk mandi. Udah gitu, semuanya minta diladenin ama cucu nya yang manis nan baik hati ini . Begitu giliran saya mau pergi ngantor ( jam 7 pagi dari rumah), tiba tiba apih merajuk, minta makan nya disiapin saya -ini yang bingung- dan maksa pulang sendiri ke rumah adik mama. Lha... piye iki?
kalo dibiarin sendiri gimana cara? tar kalo ada apa apa dijalan gimana??

Setelah diajakin ngobrol pelan pelan (tapi dengan volume yang tidak pelan karena pendengarannya udah berkurang banyak sehubungan faktor usia yang menginjak 85 tahun), akhirnya apih mau pulang dianter adik sepupu saya yang tinggal di rumah bareng kami. -huufffth..beres dah..alhamdulillah-. Tapi ternyata saya salah...

Begitu mau keluar pintu rumah, tiba tiba apih manggil saya... Dan begitu saya samperin, beliau menadahkan tangan. Hadeuuuuhhh..... ini sih judulnya minta dibekelin uang. Hahaha... Jadi inget jaman kecil dulu...suka minta uang ama apih, sekarang terbalik, dia yang minta sama saya. Ya udah lah.. saya ambil selembar uang, lalu diselipkan di tangannya. sambil bilang " ieu artos kanggo jajan di jalan nya? bilih apih hoyong kueh. simpen, bisi ical. " dan apih mengangguk sambil senyum senang dan memasukkan uang ke saku bajunya.

Diangkot, saya termenung. Berasa kemarin saya minta ini itu saat nganter apih ngambil jatah uang pensiun, sekarang saat apih ingatannya kembali ke anak kecil, giliran apih yang minta ini itu. Trus tanpa sadar sedikit sedih, ingat jika saya belum sempat membalas semua kebaikannya, sering lupa ga nengokin, sering kesal kalo apih udah ngomel tentang hal hal tidak penting, dan belum bisa nyenengin apih.

Maka, saat itu juga saya sadar, semua manjanya hari ini terhadap saya adalah satu cara untuk mendapatkan perhatian saya, bahasa lain dari kangen. Mirip saya yang juga suka merajuk dan marah marah ga jelas kalau lagi tidak diperhatikan. Hehe..


-110311-
Senin, 21 Februari 2011

Hibernasi

Posting pertama setelah hampir 20 hari hibernasi *wew ah*

Awal Februari, ngabur ke Dufan bareng para asisten yang juga lagi Stress usai dikejar setoran nilai UAS dan tender beragam kegiatan. *Lha...kalo si Gue, Stress kenapa ya?*. Pastinya, sedikit kesal dengan pembimbing yang tak kunjung membimbing dan panik dengan tanggalan kalender yang tiba tiba beranjak di hitungan awal bulan februari.*huufttth*


Dan tak lama, dilanjut dengan gabung di sebuah Event Organizer buat ngurusin sebuah acara bareng BKKBN propinsi Jawa Barat di Pantai Pangandaran. Dan selama 4 hari, semua tulang meremuk, dan kulit menghangus *tak ada kata eksotis*.


Ketika kembali ke kantor, hibernasi tak berujung melanda. *Hadeuuuuh, pemalasan global*

Tapi, setidaknya, satu mimpi tercapai, yaitu : Snorkling!! *Ahiiiieeewww* #jogetjoget


Dan sekarang, saatnya mengembalikan semangat untuk semester baru !!! *fiuuuh*
SEMANGAT !!!

Senin, 24 Januari 2011

Markitbol

Kira kira seminggu yang lalu, dateng seorang alumni ke ruangan. Ceritanya nyari orang buat bantuin sebuah event tingkat provinsi. Ga maen maen event nya... 4200 orang direncanakan hadir. Acaranya di Pangandaran, Ciamis.

Hmmmm.** 

Dan saya pun menyodorkan diri untuk menjadi salah satu personil. Lumayan, 4 hari dapet Akomodasi gratis, cuma bawa diri *ama koper isi perlengkapan* aja. Trus pulang pulang bawa uang *cewek matre*. Kapan lagi liburan gratis dan dibayar pula??? Horeeeee...!! *jingkrakjingkrak*

Trus, Anaknya ragu ragu gitu. Karena selama kuliah dia selalu kena omelan saya. Trus gimana ceritanya kalo saya sekarang kerja jadi bawahan dia, disuruh suruh gitu??*Halah,,,sangtay ajalahh..lagian kan disana diriku cuma bantuin jadi tim hore aja..* :p

Dan karena masih kurang orang, aku ajakin Kokom surokom *teman aku yang suka sedikit menyebalkan tapi seringnya mengasyikkan :D* dan dia pun mau. Pikir si kokom sih, sekalian liburan gratis. xixixix

Tapi, bentar...acaranya hari ahad sampe kamis. Lha ?? Kampus gimana ya??? Rekap nilai, survey dan sampling apa kabar??? *nanti ajaaaaaa.....atau kerjain sekarang !!* okay..siappp !!

Jadi,,Markitbol alias Mari kita bolos !!

bye bye rekap nilai, survey dan sampling...!!! d(^_^)

Jumat, 07 Januari 2011

Unforgetable Moment

Setelah 10 (sepuluh )  hari break dari kantor -emang libur juga sih..hehe- masuk ruangan dengan sedikit ogah ogahan. Terbayang hari pertama diisi dengan praktikum anak anak yang super duper riweuh dan teramat crowded. Tapi apapun yang terjadi,,inilah konsekuensi dari pilihan pekerjaan.

Riweuh dengan modul dan cek persapan praktikum, tak terasa masuk jam 11 siang. Satu persatu asisten berdatangan. Mulailah satu persatu melepas kangen dan berceloteh tentang libu akhir tahun kemaren. huuffth....riuh sekali.

dan Tak disangka...tak lama pintu ruangan di ketuk dan muncullah seorang anak  - yang dulu sering saya omeli saat Tugas Akhir- membawa satu potong Cheese cake lengkap dengan lilin yang menyala.-huuuuuuhuuuuuhuuuuu-

Masya Allah....

Saya kehabisan kata kata..hanya melongo melihat ulah para asisten yang bernyanyi sambil mengelilingi saya.  Terharu...manakala menyadari mereka ingat tanggal lahir saya -padahal saya udah berusaha menyembunyikan identitas asli saya..*halah..apa sih??*- padahal mereka juga teramat sering saya omeli.

Ini adalah kali pertama saya meniup lilin di atas sebuah kue ulang tahun *what a pity me :((*. Saat angka usia saya tak lagi di hitungan belasan, tapi puluhan. Sebuah keterlambatan??? tidak,,tapi ini adalah satu hadiah teramat besar. Bukan kue nya yang hanya sepotong, tapi bentuk perhatian mereka. Sebentuk perhatian yang menyiratkan betapa saya dikelilingi oleh oranng orang yang begitu peduli.

Walaupun terlambat satu hari, tapi selama 2 hari itu (hari lahir saya dan sehari sesudahnya) begitu banyak limpahan doa dari orang orang terdekat. Keluarga, teman, sahabat yang tak henti hentinya berdoa untuk semua kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Amin

Dan inilah... momen dimana saya meniup lilin untuk pertama kalinya di hidup saya...
Saat anak anak teriak untuk make a wish...!! saya hanya tersenyum sambil mendengar kata hati yang tak pernah dusta. Allah...Engkau tahu apa yang baru saja tersirat di hati ini :) semoga Engkau izinkan..amin..
dan tentu saja..Lulus Kuliah secepatnya..dan dilancarkan juga dimudahkan semua urusannya. AMiin aminn

Terimakasih Isti, Ege, Christy, Ivan, N'ti, Shita, Riri,Ala, dan Praktikan semua..untuk doa doa dan unforgettable moment-nya.


-3 januari 2011-
Jumat, 10 Desember 2010

[ n.g.g.a. ] 100%

Sekitar 3 minggu ini kegiatan kantor lagi padat padatnya.  Biasa lah, anggaran baru turun tengah tahun, akhir tahun harus udah ada laporan pertanggungjawaban.  Sementara kegiatan juga baru mulai 3 bulan kemarin. Jaddi, seperti biasa  saya menunda urusan sekolah dan final project (huffthh..) demi pekerjaan (lagi ???).

Sepagian udah khusuk depan kompi, berteman setoples kurma pemberian , teh hangat dan setumpuk bon yang harus dipilah.  Gangguan pertama datang dari rekan sejawat yang minta crosscheck data penelitian. Hmmm... selesai dalam waktu sejam. 

Kembali menyeruput teh (yang tidak lagi) hangat, kembali fokus ke monitor 15 inchi.  Gangguan kembali datang  kali ini ponsel yang bergetar tiada henti. Dari Asisten praktikum...bahas laporan anak anak dan blah blah. Hmmm... 30 Menit.

Kali ini pintu diketuk dari luar. Lalu masuklah 2 orang mahasiswa laki laki. Seketika saya langsung teriak " Duh, maaf..saya belum hubungi teman saya di I*B !! Oke deh, saya hubungi sekarang. Kalian  mau  kan tunggu sebentar? Duduk aja dulu. "  Lalu mengangkat telpon, dan ngobrol dengan teman yang dimaksud. Sementara 2 mahasiswa itu duduk dengan antengnya di kursi tanpa sepatah katapun.

Selesai menelpon, saya langsung nyerocos  " ternyata teman saya juga tidak punya bahan yang dimaksud. Gimana? bisa diganti dengan bahan yang lain tidak? Kalian mulai penelitian kapan??"  Kedua orang mahasiswa itu masih juga diam.  Lau saya ulangi pertanyaan sekali lagi. Tiba tiba salah satu dari mereka jawab " Maaf bu, bahan apa ya? saya kurang mengerti"

"lho?? kaliankan mahasiswa Teknik Kimia yang kemaren nanyain tentang bahan penelitian kan?? " Lalu mereka berdua menggeleng dengan kompaknya dan bilang "Kami mahasiswa Teknik Mesin bu, yang mau tanya tentang referensi ke Ibu"

Waddduuuhhh??? tewewewwww gini hihihi...akhirnya sambil setengah tertawa (nutupin malu) saya minta maaf.  Kemudian berlanjut dengan diskusi ringan tentang penelitian mereka di depan meja yang berantakan dengan bon, kuitansi dan laporan. Hmmm... 1 jam.

Berasa lapar, lirik jam,,, oopppsss..jam 11 siang lagi.  Baiklah, saatnya untuk mengisi perut. Beranjak dari depan kompi, ambil sweater karena angin yang g enak, ambil kunci ruangan.pake sepatu dan ready to go. 

Tapi sayangnya, belum juga nutup pintu, Pak Agus (petugas gedung yang baik hati ) udah nyodorin Flash Disk lengkap dengan secarik kertas berisi pesan " Copy Data SLHD Kab ke FD ini, kalo udah, balikin lagi ke Pak Agus"  Wew ah... terpaksa balik lagi ke depan kompi.

Begitu di depan kompi kebingungan sendiri. Apa Pasal?? Saya ga tahu gimana caranya melepas tutup FD itu.  DEM !! Mendadak bingung, nguyek nguyek benda mungil berwarna hitam dengan tulisan 4GB TOSHIBA itu dengan sepenuh hati. Tarik sana, tarik sini. Betot sana betot sini. 5 menit, Nyerah !! sambil teriak  " Pak Aguuussss....Ga bisa bukanyaaaa...."

Dan kembali Pak Agus menghampiri sambil mulutnya ngunyah kurma. Lalu dengan nyantainya narik tutup FD itu dan bilang " Ibu lagi Nggak Seratus persen ya ??? Makanya..minum mijon* bu.."

Hah?? Hah?? Hah?? APAAA???? MAKSUDNYAAAAAHHH ????!!!! 


*manyun sambil masukin FD ke portnya




*mijon = merek minuman kemasan yang bisa bikin 100% cenah
Rabu, 24 November 2010

Virus Menular

Hampir sebulan ini dikejar tenggat. Ya kerjaan, ya urusan kuliah. Capek ampun ampunan lah..sampe hari ahad pun kerjanya cuma gugulutukan di tempat tidur atau di atas karpet di depan tipi tak berdaya sama sekali ( waeee..padahal mah males aja ya?? )

Nah, saking capeknya dan bisanya cuma gugulutukan bin leyeh leyeh di depan tipi, maka saya pun jadi seorang ahli. Ya..ahli dalam menyambungkan kabel DVD player ke Pesawat Tipi hehe.
Diatas karpet, berteman cemilan dan air minum, di seantero karpet yang terlihat hanya bungkus DVD dari film yang belum saya tonton. Sementara remote Tipi dan Remote DVD tak boleh jauh dari tangan saya.

Dan ssstttt...semuanya adalah Film serial korea hehehe. Mau tahu judul film yang belum sempet saya tonton?? Ok.. ni listnya :

1. I am Sam
2. Marrying with a Millionaire
3. Cinderella Man
4. Hello Lady
5. He Is Beautiful
6. Baker King
7. My GirlFriend is a gumiho
8. Fugitive

hehehe...rata rata sih 3 sampe 4 keping DVD setiap judulnya. Jadi, tinggal dijumlahin aja ya??. Pasti  penasaran, kenapa sebanyak itu sih? iya, kerjaan saya kan hunting ke tempat DVD bajakan (hihi...maaf pak eSBeYe) setiap minggu, trus nyari film2 serial yang lucu n bisa bikin ketawa. Nah, niat nya sih cepet2 ditonton, tapi apa daya..badannya udah keburu  capek dikejar tenggat, matapun dah nge-blur dan akhirnya keleyep keleyep, so..numpuk deh utang nonton DVD nya..hehe (alasan !!:p)

Trus, begitu ahad kemaren saya lagi leyeh leyeh, dateng lah temen adik saya (cowok). Nah, badannya kan gedeee banget aka gendut, trus sedikit garang dengan rambut yang cepak. Dia maksa minjem Kaset DVD koleksi saya. trus saya bilang aja, kalo saya nggak punya film2 barat yang bagus, apalagi film2 perang. Tapi dia maksa pengen pinjem. Katanya sih, buat iseng nemenin di kamar, soalnya lagi nggak ada jadwal manggung  keluar kota (maklum, anak band laah..).

Setelah ngubek2 koleksi saya, sambil sedikit ngedumel (karena isinya film serial korea  hehe), akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada serial DVD Sassy Girl Chun Hyang.  Ya sudah, saya wanti wanti biar g lupa balikin dan bilang jangan ngedumel kalo g suka. Sementara, saya terusin ritual nonton DVD lagi. Saat itu saya lagi ketawa ngakak liat My Girlfriend is A Gumiho

Besok sorenya, tiba tiba dia (temen adik saya yang sedikit garang itu) dateng lagi. Trus bilang kalo film Sassy girl chun Hyang yang dia tonton kemaren itu rame, bisa bikin ketawa dan terharu ampe nangis. Udah gitu, dia minta rekomendasi film serial yang rame lagi. Pokoknya, yang ga ada acara berantem nya. Ya...saya kasih aja Princess Hours.

ih, badan gede, tampang garang, band aja cadas, Tontonannya nggak nahan banget, ampe nangis nangis pula. Makanya, Jangan suka Mencela Film serial Korea. Giliran Kena virusnya..tahu rasa kan?? hihihi

Kamis, 28 Oktober 2010

Cara Menggunakan Payung dengan Benar dan AMAN

Semua benda memang harus diperlakukan dengan benar.

Seminggu kemaren, seorang rekan di kantor baru saja kembali dari negeri sakura alias Jepang. Bawaan (oleh olehnya) lumayan banyak. Dan saya milih pembatas buku beserta sebuah pencil plus cengcelengan kayu (maruk ya?? heuheu..biarin ah..).  Tapi kayaknya bukan cengcelengan sih..itu mah lebih mirip wadah kencleng mesjid


Sebenernya sih, ada satu benda yang paling saya pengenin. Ga susah juga sih nyarinya, yaitu payung. Tapi , saat rekan saya berangkat waktu itu, saya lupa titip. Jadi, ya resiko lah..ga dibawain.

Nah, saat dikasih oleh2 itu saya nyeletuk dan sedikit curhat tentang benda yang saya pengenin. Tiba tiba besoknya, dia ngebawain satu payung mungil warna coklat. waaaahhh...senangnyaaaa

Begitu saya cek, ternyata ada selembar kertas tergantung di cover-nya. iseng dibaca, trus saya manggut manggut. hhmmm..ternnyata benda sekecil dan sefamiliar payung pun, dilampiri sebuah tata cara penggunaan. HEBAD !! Secara gitu ya..di indonesia nggak pernah ada..kecuali barang barang elektronik. Jadi, sekarang saya tahu cara menggunakan payung dengan benar dan aman. Kata kertas itu sih,,gini caranya :

<<Precautions for Use !!>> 

(beneran lho,,pake tanda seru dua )


1. This product has a pointed end. Be sure to check the safety of your surroundings before using this umbrella
(katanya : liat liat sekeliling dulu kalo mau make payung)

2. Do Not Use the umbrella as a walking stick
(katanya : ini bukan iteuk alias tongkat)

3. Do Not use the umbrella if the handle or the rib tips are damaged
(katanya : kalo rusak jangan dipake)

4. Do not swing or throw the umbrella around
(katanya : payung nya jangan dilemparin.)

5. Do not use the umbrella against gale force wind and down pours as it may break
(katanya : jangan dipake kalo ada angin ribut. anginnya suruh diem dulu. hehe)

6. Do not touch the rib structure of the umbrella
(katanya : rangka payung jangan dipegang)

7. When the umbrella is not completely dry, keep it away from clothing and other items as it may cause color transfer
(katanya : abis dipake ujan ujanan jangan dideketin ke benda ato baju, bisi kelunturan)


Udah ah, berharap hari ini hujan turun rintik rintik. Kan mau mempraktekkan tujuh poin diatas. *sombhong* heuheu..
Rabu, 13 Oktober 2010

adat adatan

Berasa anak ilang gini..
Hp bunyi g brenti brenti
telp ruangan nyanyi nyanyi juga

Giliran Hp diangkat, protes " Hp tuh kalo bunyi diangkat..jangan didiemin.."
Pas Terima telp ruangan, ngomel " lama amat sih ngangkatnya??"

Udah tahu semua orang minta dijadiin prioritas..!!

aaaarrrgghh...dodol pisan lah..#sembari masukkin Hp ke Laci Meja, cabut line telepon, kunci ruangan, trus kabur cari kopi#

hehe



 

Template by Web Hosting Reviews