Nilai seseorang berasal dari kebaikan dan kebermanfaatannya, maka sudah saatnya saya berhenti dari semua bentuk kesia-siaan, untuk kemudian berusaha sekuat tenaga menyibukkan diri berbuat baik dan berbagi kebaikan dalam kapasitas yang dianugerahkanNya pada diri hingga tak menjadi manusia yang merugi.
Hadiah Terbaik
Nilai seseorang berasal dari kebaikan dan kebermanfaatannya, maka sudah saatnya saya berhenti dari semua bentuk kesia-siaan, untuk kemudian berusaha sekuat tenaga menyibukkan diri berbuat baik dan berbagi kebaikan dalam kapasitas yang dianugerahkanNya pada diri hingga tak menjadi manusia yang merugi.
kepunyaan setiap jiwa
Sambil mengunyah sepotong kue keju sisa lebaran dari Ibu Professor, otak saya menerawang..
hening sesaat melingkupi,lalu SA mengulurkan tangan untuk kemudian memeluk NR.
#rambling
45 hari lalu, kala sebuah ruang ditinggal pergi penghuninya, sebuah kertas lusuh -hasil sobekan tergesa gesa- sampai di genggaman. Tertera deretan kalimat dengan tulisan tangan yang familiar di satu masa dan satu waktu. Mungkin ditulis dengan tergesa gesa, tapi ketergesaan itu tak mengubah garis dan tekanan di kalimat yang tertulis.
u/ Nita..
Tuhan sedang memeluk'mu dalam cinta yg tidak Terbatas
Maaf u/segala keterbatasan
01 Sept 2011
Miss 'U & your family
XXXXXX
Tak butuh waktu lama untuk mencerna deretan kalimat itu. Iya, saat itu sebuah ruang di hati ditinggal pergi penghuninya, saya sedang dipeluk dalam rengkuhan CintaNya yang tak berbatas. Sebentuk cinta dalam wujud yang berbeda, dalam makna yang berbeda. Dalam rasa yang berbeda.
Cinta yang terasa lebih kuat saat keberadaannya justru tak teraba indera.
Cinta yang terasa lebih mewujud saat yang dicinta tak lagi berwujud.
Cinta yang dirasa lebih menggelora saat yang tersisa hanya getaran.
Cinta yang lebih harum saat yang dibaui hanya sisa keringat yang lekat di baju terakhir
Cinta yang lebih manis kala yang dirasa hanya kelebatan senyum
Cinta yang lebih hangat kala serpihan rasa berkolaborasi dengan sejumput ingatan tentang sebuah pelukan
Cinta yang dirasa lebih indah ketika yang dimiliki hanya kelebatan ingatan
Cinta yang menjelma dalam bentuk kehilangan. Dan seperti biasanya- seperti yang sudah sudah- kehilangan hanya akan membuat cinta yang dimiliki terasa lebih kuat. Tapi, apakah harus selalu didahului oleh sebuah kehilangan, lalu saya menyadari kekuatan cinta itu sendiri?
Seperti kejadian di sebuah gugusan waktu bertahun lalu, seperti 45 hari lalu,dan seperti hari kemarin? saat dia pergi, saat mama pergi lalu saat apih pergi?? Dan cinta itu tiba tiba saja tercerabut paksa, meninggalkan palung yang dalam, lalu kenapa rasa yang berbeda itu tak serta merta tercerabut pergi tapi sebaliknya, terasa lebih kuat??
Mungkin dia tidak menyadari, bahwa rasa yang berbeda itu pernah digoreskannya di gugusan waktu lalu. Maka, kembali kehilangan demi kehilangan ini justru semakin mengukuhkan kekuatan cinta saya. Tapi bukan terhadapnya. Melainkan terhadap orang terdekat saya, yang tetap mendampingi di masa masa terburuk, yang tetap kuat saat saya rapuh, yang menjadi tempat ternyaman kala seisi dunia tak bersahabat, yang memiliki stok pelukan hangat tak terbatas, yang usapan lembut nya setia mengelus kepala ketika lelah menangis,yang pergi 45 hari lalu, dan kerandanya melintas secepat kilat seolah tanah sudah tak sabar ingin mendekapnya.
Kini, syukur saya haturkan ke hadapanNya, untuk semua kehilangan ini, karena Dia telah membuat saya menjadi sosok yang lebih kuat, yang lebih ikhlas, yang lebih menghargai keberadaan orang-orang sekitar yang menyayangi dan mencintai saya. Maka, saya tak putus berharap akan hamparan hikmah yang menanti untuk saya petik. Hingga balutan CintaNya yang tengah saya cerna-dan rasanya jauh dari enak- mampu saya telan dengan penuh keikhlasan.Semoga saja cinta tak terbatas kepunyaanNya yang kini tengah memeluk saya berbuah kebaikan bagi diri, agama, dunia dan kelak di hadapanNya. amin ya rabbal'alamin
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, maka Allah menimpakan musibah (cobaan) dariNya.” (HR. Malik dan al-Bukhari)
...lalu Cinta, akan kusembunyikan air mata di balik senyum dan sujud panjang di malam sunyi sebagai isyarat pada luka, atas kepergianmu..*
19 oktober 2011
*dikutip dari @asmanadia dengan sedikit perubahan.
..a note from your daughter
Kalimat tanya yang aneh. Tapi mungkin itu adalah kalimat yang akan keluar jika saya diberi kesempatan bertemu dengannya. Walaupun sebenarnya kalimat itu adalah kalimat teraneh seumur hidup yang keluar dari mulut saya. Aneh, karena (dulu) saya terbiasa bercakap dengannya setiap saat, bertatap muka. Atau bahkan kami berdua berada di satu ruangan berteman satu kotak ajaib bernama televisi tapi kami sibuk dengan urusan masing masing. Teramat sering kami berdua tanpa bercakap tapi kami menyadari kehadiran satu sama lain.
Tapi, saat saya ada di hadapannya, maka semua hal itu "penting" yang ada di otak saya hilang. Mendadak menjadi orang bego dan tak berkata apapun kecuali mulut menganga lalu berlanjut dengan keanehan keanehan seperti berkata "Hai, apa kabar?".
Jadi, segala kondisi itu akan mungkin terjadi saat saya bertemu mamah. Tapi saat saya bertemu dengannya, saya berharap keanehan akibat gumpalan rindu yang membatu itu hanya terjadi sedetik. Lalu detik berikutnya, saya akan menjelma menjadi anak yang menyebalkan. Saya akan meminta mamah untuk duduk di sebelah , lalu membiarkan saya rebah dengan kepala di pangkuannya. Kemudian refleks tangan beliau akan mengelus kepala lengkap dengan doa doa yang terburai tak terhitung dari mulutnya. Lalu saya akan mengambil sebuah buku dan membacanya perlahan hingga lantunan doa dan elusan lembut tangan beliau menjelma mantra terampuh pengantar lelap.
Atau saya akan memintanya untuk mengajari saya memasak. Tentunya bukan berarti saat ini saya tak bisa memasak. Perkara masak sayur bening seperti sayur bayam dan sayur sop, saya masih bisa tangani. Tapi saya kelimpungan saat hari besar keagamaan seperti Idul Adha tiba. Saya bingung melihat kiriman daging qurban yang teronggok dan hanya akan menjadi pasukan sate yang berbaris rapi berbumbu kecap dan bawang merah. Maka, jika saya bertemu dengannya, saya akan setia berdiri di sampingnya untuk mengiris bawang, memarut kelapa tanpa mengeluh untuk kemudian memerasnya hingga menjelma gulai yang teramat gurih tanpa penyedap rasa. Atau membantunya memasukkan beras kedalam cangkang ketupat dengan takaran yang tepat hingga hasilnya ketupat akan tampak seperti perut Bii Rain yang Six Pack. Tidak seperti saat kemarin, ketupat tampak bulat menggembung seperti paman gembul yang siap muntah karena overload.
Atau saya akan memintanya untuk menyibukkan diri sebagai wanita karir yang punya seabrek kegiatan. Hingga beliau tak perlu lagi menunggui kami -anak anaknya- pulang setiap sore. Setia dengan sebuah buku ditangan, kacamata yang bertengger di hidung mungilnya, dan sebuah kotak ajaib bernama televisi di hadapannya. Lalu saat pintu terbuka dan satu persatu anaknya pulang, sambil melepas kacamata dan menyimpan buku, beliau akan membuka lemari makan. Dan tanpa diminta, menyebutkan daftar menu hari ini. Maka jika saya bertemu dengannya, dengan segenap hati saya akan membiarkan beliau beredar setiap hari dengan agenda pertemuan yang ketat. Lalu kami -anak anaknya- akan terbiasa memegang kunci rumah masing masing. Tidak seperti kemarin, saya lupa menyimpan kunci rumah bagian saya hingga panik sibuk menelpon kesana kemari demi bisa masuk ke dalam rumah. Dan setibanya di dalam, tak ada yang menyambut dengan teriakan menu hari ini.

Tapi, saya tahu, semua kemungkinan di atas adalah obat bagi secuil luka atas kehilangan yang masih terasa. Bukan, bukan saya tidak ikhlas melepasnya pergi ke hadapanNya. Tapi saat ini saya rindu untuk dapat memandang wajahnya, untuk dapat berbincang dengannya tentang hari hari penat yang saya jalani selepas kepergiannya, untuk dapat memeluknya hingga mantra itu lamat terdengar lirih di telinga saya, untuk dapat mendengar suaranya lengkap dengan gelak tawanya. Untuk dapat mengamini setiap hamburan doanya yang saya butuhkan. Dan untuk mencium tangannya, seraya berujar... "terimakasih untuk segalanya, maafkan semua keterbatasan teteh sebagai manusia"
Mah, seharusnya mamah hari ini berusia 60 tahun...
Tapi 70 hari lalu, mamah pergi di subuh hari yang sepi, disamping teteh yang tak terisak sama sekali. teteh yang masih bisa mengganti pampers dan menyisir rambut mamah lalu membersihkan badan mamah sesaat setelah mamah pergi. Tapi yang tak berani melihat jasad mamah dimandikan, dan dikafani. Teteh yang saat ini masih menangis setiap usai shalat karena takut doa doa teteh untuk mamah tak cukup menghangatkan mamah saat hujan mengguyur bumi.
Rabb, jaga mamah, titip mamah di pelukanMu. Amiin
10 November 2011
di Lain Dunia
Hidupnya adalah irisan bagi banyak orang. Teman berbagi, teman berkelahi, teman berdebat. Tawanya hangat nan renyah tanpa beban. Senang berada di dekatnya.
Maka ketika titik akhirnya telah sampai, ia tinggalkan semua obsesinya. Seorang remaja cantik yang belum mengerti hidup dan kehidupan tergugu di samping nisannya. Berdiri di sampingnya sesosok lelaki gagah yang tabah,terpekur di tanah merah yang menimbun sosok cantik periang itu.
Lalu, aku yang tak mampu mendekat, dengan hati tersayat berbisik :
"apa rasanya, berada di sana sendirian?"
"ramaikah disana? seperti hiruk pikuknya dunia yang kau tinggalkan?"
"gemerlap atau gelapkah?"
"apakah disana ada seseorang yang kau kenal?"
-in memoriam seorang kakak dan sahabat tercinta, Wida Juangsih 16 Mei 1975-09 Juli 2010-