Hingga menginjak usia sekarang, berapa kali sebenarnya kita berubah, atau beradaptasi menyesuaikan diri dengan perubahan itu sendiri? Pertanyaan itu sebenarnya ditujukan pada diri saya sendiri. Seringnya, perubahan itu sendiri tak diiringi dengan kesadaran penuh untuk berubah. Lebih ke sebatas karena lingkungan yang memaksa untuk berubah.
Ini pula yang terjadi saat ini. Hitungan tahun berjalan cepat tanpa terasa. Ketika 6 tahun yang lalu, penghuni rumah dari 5 orang berkurang satu karena adik saya menikah. Lalu bertambah 1 lagi ketika sepupu saya melanjutkan sekolah dan tinggal di rumah. Tahun 2011, Ibu saya meninggal dan disusul tahun 2012 adik laki laki saya meninggal. Maka, penghuni rumah tinggal tiga orang, yaitu Saya, Adik laki laki dan adik sepupu.
Awal tahun 2013, Saya menikah. Tapi penghuni rumah tetap tak bertambah, karena suami bekerja di luar kota. Hingga hari ini, ketika pertengahan tahun 2013 adik sepupu menyelesaikan sekolah dan kembali ke daerahnya, otomatis penghuni rumah hanya tinggal berdua. Saya dan Adik lelaki yang belum menikah. Tapi, seringnya saya ditinggal sendiri karena adik juga lebih sering ninggalin rumah karena pekerjaan.
Proses adaptasi yang dialami terhitung banyak dan harus cepat. Dari mulai membiasakan membawa kunci rumah setiap keluar. Menyediakan masakan untuk orang rumah yang menuntut saya bangun tidur lebih awal. Hingga membiasakan diri untuk tidur dalam keadaan ruangan gelap :D Ini proses yang terberat.
Setelah mulai terbiasa dengan perubbahan, tetiba adik saya sering keluar kota. Maka otomatis saya sering ditinggal sendiri. Kebayang ga? Dari awalnya penghuni rumah yang 5 orang lalu tinggal 1 orang?? saya panik sekali. Hingga setiap ditinggal sendiri dirumah, saya selalu menghubungi orang untuk menemani dirumah. Atau jika tak ada orang yang bersedia, maka saya akan pergi ke rumha ibu mertua atau ibu angkat saya.
Lama kelamaan,saya capek dengan kondisi ini. Saya paksakan agar sanggup tidur di rumah sendirian tanpa ditemani oleh siapapun. Jangan berfikir bahwa ini mudah. Proses ini butuh waktu dan sangat menguras energi. Mulai dari membiasakan tidur dengan lampu menyala lalu memasang radio hanya supaya saya merasa tidak sendiri dan memboyong semua perbekalan yang dibutuhkan seperti makanan dan minuman.
Dengan semua pembiasaan itu, saya hanya berhasil tidur hingga jam 23.00 wib. Sisanya?? saya melek. Hingga tak jarang saya ngantor dengan kondisi ngantuk. Dan ini masih terus berlangsung hingga hari ini. Kebayang ga?
Tapi tak ada pilihan selain saya harus menjalani dan -semoga- melewati semuanya dengan sukses. Adaptasi memang butuh waktu, tenaga dan kemauan. Apalagi jika adaptasi ini memang dipaksa oleh keadaan.
Semoga saja saya bisa...
Tampilkan postingan dengan label gapenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gapenting. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 November 2014
Kamis, 19 Agustus 2010
Bad Attitude
Ini tentang seorang rekan sejawat sekaligus sahabat.
Nah, yang sedikit menyebalkan adalah sikap dan bahasa tubuh sang hakim. Begitu mengetahui bahwa suami teman saya tidak mau bercerai, sang hakim berbalik membela dan sedikit under estimate terhadap sahabat saya. Dari mana saya tahu kalo itu adalah satu bentuk under estimate?? coba saja cerna kalimatnya..
"ibu yakin untuk tetap berpisah dengan suami? Saya kasih tahu ya bu,,jadi janda itu tidak enak, malam malam sendiri kedinginan nggak ada yang meluk."
Whaaaatttttt????? see?? gimana saya nggak sedikit emosi jiwa??
Bapak Hakim yang terhormat itu mengatakan nya dengan enteng plus kerlingan mata yang
menjijikkan..
Hampir 2 bulan lalu dia bercerita di hadapan saya, saat memutuskan untuk "berpisah" dengan suaminya, dengan ekspresi yang sulit saya gambarkan. Tak ada raut kesedihan dan mata sembab sisa menangis. Rasa kaget tentu saja ada karena selama ini tak pernah terdengar soal kisruh rumah tangganya.
Dari ceritanya saat itu, saya tidak memberikan saran apapun mengenai keputusannya. Karena saya paham, saat itu dia butuh seorang pendengar, bukan penasihat. Maka saya memasang telinga selebar lebarnya untuk kisahnya. Hingga akhirnya saya tahu alasan dibalik keputusannya.
Kali ini, saya tidak akan membahas apapun tentang perceraiannya. Tapi, hari ini saya menemaninya ke Pengadilan Agama untuk hadir di sidang perceraiannya. Tidak untuk membela, tapi hanya memberikan dukungan moril saja. Kali ini adalah tahap mediasi dari hakim.
Masuk ruang sidang, ternyata sang suami keukeuh tidak mau menceraikan hingga mediasi berlangsung sedikit alot. Dan memang, di kasus ini sahabat sayalah yang mengajukan gugatan cerai.
Dari ceritanya saat itu, saya tidak memberikan saran apapun mengenai keputusannya. Karena saya paham, saat itu dia butuh seorang pendengar, bukan penasihat. Maka saya memasang telinga selebar lebarnya untuk kisahnya. Hingga akhirnya saya tahu alasan dibalik keputusannya.
Kali ini, saya tidak akan membahas apapun tentang perceraiannya. Tapi, hari ini saya menemaninya ke Pengadilan Agama untuk hadir di sidang perceraiannya. Tidak untuk membela, tapi hanya memberikan dukungan moril saja. Kali ini adalah tahap mediasi dari hakim.
Masuk ruang sidang, ternyata sang suami keukeuh tidak mau menceraikan hingga mediasi berlangsung sedikit alot. Dan memang, di kasus ini sahabat sayalah yang mengajukan gugatan cerai.
Nah, yang sedikit menyebalkan adalah sikap dan bahasa tubuh sang hakim. Begitu mengetahui bahwa suami teman saya tidak mau bercerai, sang hakim berbalik membela dan sedikit under estimate terhadap sahabat saya. Dari mana saya tahu kalo itu adalah satu bentuk under estimate?? coba saja cerna kalimatnya..
"ibu yakin untuk tetap berpisah dengan suami? Saya kasih tahu ya bu,,jadi janda itu tidak enak, malam malam sendiri kedinginan nggak ada yang meluk."
Whaaaatttttt????? see?? gimana saya nggak sedikit emosi jiwa??
Bapak Hakim yang terhormat itu mengatakan nya dengan enteng plus kerlingan mata yang
menjijikkan..
Kamis, 12 Agustus 2010
Jaga Moral
Selasa, saat ujian seminar seorang mahasiswa, saya bertemu dengan seorang Dosen Senior. Seorang Bapak berusia menjelang pensiun yang sederhana. Bapak ini sejatinya berkantor di sebuah BUMN terkemuka di Indonesia bahkan dunia (dulunya), tapi karena kapasitas ilmu dan pengalamannya yang mumpuni di bidang pengelolaan limbah,maka beliau mau berbagi ilmu dengan menjadi staff pengajar di lingkungan kampus kami.
Ceritanya, di seminar itu hadir pula beberapa teman si mahasiswa yang sekarang sudah berkarier sebagai abdi negara di sebuah Badan yang mengurusi Lingkungan setingkat propinsi, dan seorang lagi di sebuah Badan yang mengurusi permukiman. ya, keduanya berkarier sebagai PNS.
Singkat cerita, kami semua seperti bertemu dalam sebuah reuni kecil. Karena, 2 orang alumni ini saat tugas akhirnya didampingi saya dan saat kerja praktek dibimbing oleh bapak ini. Maka, kami terlibat pembicaraan yang cukup menyenangkan saat menunggu seminar di mulai.
Usai seminar, kami kembali terlibat percakapan yang sedikit serius. Bapak ini bertanya kepada saya, kenapa tidak memilih berkarier sebagai PNS. Jawab saya, masih banyak bidang pekerjaan yang bisa dilakoni selain PNS. Dan bapak ini hanya tersenyum. Sementara, pada kedua alumni ini yang jelas jelas sudah berkarier sebagai PNS, dia hanya menyampaikan sebuah pesan pendek dalam dua kata : "JAGA MORAL"
Hingga usai percakapan di ruang sidang dan Bapak kembali ke kantornya, dua alumni ini masih juga tidak mengerti makna dibalik pesan yang disampaikan beliau. Lalu, percakapan beralih ke ruangan saya. Dan seperti saya duga sebelumnya, mereka bertanya mengenai pesan tersebut.
Saya mencoba menjelaskan maksud pesan itu dalam kalimat yang sederhana dan berusaha tak menyinggung pihak manapun. Saya hanya berkata, " Jaga Moral bermakna sikap Hati Hati dan mawas diri. Pegang apa yang menjadi nilai kebenaran di mata agama, bukan di mata publik"
Apa yang saya katakan kepada mereka bukan tanpa alasan dan tolok ukur yang jelas. Betapa banyak teman saya yang Idealis, tiba tiba berubah dan berbalik arah, terjerembab dalam pusaran nilai benar di mata publik. Menjadi begitu terbiasa dengan hal hal yang dulu teramat mereka tentang. Lalu saat saya bertanya tentang nilai kebenaran yang dulu pernah diyakini, mereka hanya berujar, ini adalah hal yang terbiasa di negeri ini.
Hitam dan Putih adalah warna pembeda, penegas antara yang benar dan yang salah. Tapi saat ini, di ranah abdi negara, warna itu membaur membentuk satu warna baru. Abu abu. Warna yang tak jelas, untuk penggambaran benar dan salah. Di area ini nilai benar dan salah berdasar hukum "terbiasa, kebiasaan dan umumnya".
Pengalaman saat berhubungan dengan birokrat di departemen hingga dinas dan kelurahan, area abu abu menjadi hal yang biasa dan umum. Bahkan, saat diri mengurusi sebuah proyek berbasis masyarakat, betapa sering saya harus mempersiapkan berpuluh amplop berisi upeti sebagai pelicin. Dan saat saya sengaja tidak memberikan amplop yang dititip manager proyek, maka jangan harap data yang dibutuhkan turun. Kali lain saat usai rapat dengan para petinggi demi mengurusi proyek pemerintah, betapa sering petinggi petinggi itu menghampiri dan meminta tambahan upeti dengan lancangnya tanpa rasa malu, atau meminta dikonversi dalam bentuk lain seperti makan di hotel berbintang, oleh oleh atau tiket wisata.
Maka, inilah satu alasan saya tidak berkarier sebagai abdi negara. Saya hanya takut, jika benteng keimanan saya tidak cukup kuat membendung semua hal di ranah abu abu. Dan menjadi bagian dari lingkaran setan yang tak tahu ujung pangkalnya. Walau saya tahu, di sana, di dunia abdi negara , masih teramat banyak tipikal orang orang idealis yang terpaksa bertahan dengan nilai kebenaran agama yang berusaha dipegang teguh. Tapi mereka sendirian, terasing!! Lalu sampai kapan mereka bertahan sementara gempuran itu begitu dahsyatnya menggerus benteng idealisme mereka?
Seperti siang itu, saat seorang alumni membuka sebuah amplop yang diterimanya tanpa tahu asal muasalnya. Hanya bertuliskan "uang munggah" di cover amplop. Saat dibuka, beberapa lembar uang bergambar dua orang Proklamator menyembul dari dalamnya.
Lalu , kami bertiga kemudian tersenyum dengan menyimpan sekelumit risau.
Ceritanya, di seminar itu hadir pula beberapa teman si mahasiswa yang sekarang sudah berkarier sebagai abdi negara di sebuah Badan yang mengurusi Lingkungan setingkat propinsi, dan seorang lagi di sebuah Badan yang mengurusi permukiman. ya, keduanya berkarier sebagai PNS.
Singkat cerita, kami semua seperti bertemu dalam sebuah reuni kecil. Karena, 2 orang alumni ini saat tugas akhirnya didampingi saya dan saat kerja praktek dibimbing oleh bapak ini. Maka, kami terlibat pembicaraan yang cukup menyenangkan saat menunggu seminar di mulai.
Usai seminar, kami kembali terlibat percakapan yang sedikit serius. Bapak ini bertanya kepada saya, kenapa tidak memilih berkarier sebagai PNS. Jawab saya, masih banyak bidang pekerjaan yang bisa dilakoni selain PNS. Dan bapak ini hanya tersenyum. Sementara, pada kedua alumni ini yang jelas jelas sudah berkarier sebagai PNS, dia hanya menyampaikan sebuah pesan pendek dalam dua kata : "JAGA MORAL"
Hingga usai percakapan di ruang sidang dan Bapak kembali ke kantornya, dua alumni ini masih juga tidak mengerti makna dibalik pesan yang disampaikan beliau. Lalu, percakapan beralih ke ruangan saya. Dan seperti saya duga sebelumnya, mereka bertanya mengenai pesan tersebut.
Saya mencoba menjelaskan maksud pesan itu dalam kalimat yang sederhana dan berusaha tak menyinggung pihak manapun. Saya hanya berkata, " Jaga Moral bermakna sikap Hati Hati dan mawas diri. Pegang apa yang menjadi nilai kebenaran di mata agama, bukan di mata publik"
Apa yang saya katakan kepada mereka bukan tanpa alasan dan tolok ukur yang jelas. Betapa banyak teman saya yang Idealis, tiba tiba berubah dan berbalik arah, terjerembab dalam pusaran nilai benar di mata publik. Menjadi begitu terbiasa dengan hal hal yang dulu teramat mereka tentang. Lalu saat saya bertanya tentang nilai kebenaran yang dulu pernah diyakini, mereka hanya berujar, ini adalah hal yang terbiasa di negeri ini.
Hitam dan Putih adalah warna pembeda, penegas antara yang benar dan yang salah. Tapi saat ini, di ranah abdi negara, warna itu membaur membentuk satu warna baru. Abu abu. Warna yang tak jelas, untuk penggambaran benar dan salah. Di area ini nilai benar dan salah berdasar hukum "terbiasa, kebiasaan dan umumnya".
Pengalaman saat berhubungan dengan birokrat di departemen hingga dinas dan kelurahan, area abu abu menjadi hal yang biasa dan umum. Bahkan, saat diri mengurusi sebuah proyek berbasis masyarakat, betapa sering saya harus mempersiapkan berpuluh amplop berisi upeti sebagai pelicin. Dan saat saya sengaja tidak memberikan amplop yang dititip manager proyek, maka jangan harap data yang dibutuhkan turun. Kali lain saat usai rapat dengan para petinggi demi mengurusi proyek pemerintah, betapa sering petinggi petinggi itu menghampiri dan meminta tambahan upeti dengan lancangnya tanpa rasa malu, atau meminta dikonversi dalam bentuk lain seperti makan di hotel berbintang, oleh oleh atau tiket wisata.
Maka, inilah satu alasan saya tidak berkarier sebagai abdi negara. Saya hanya takut, jika benteng keimanan saya tidak cukup kuat membendung semua hal di ranah abu abu. Dan menjadi bagian dari lingkaran setan yang tak tahu ujung pangkalnya. Walau saya tahu, di sana, di dunia abdi negara , masih teramat banyak tipikal orang orang idealis yang terpaksa bertahan dengan nilai kebenaran agama yang berusaha dipegang teguh. Tapi mereka sendirian, terasing!! Lalu sampai kapan mereka bertahan sementara gempuran itu begitu dahsyatnya menggerus benteng idealisme mereka?
Seperti siang itu, saat seorang alumni membuka sebuah amplop yang diterimanya tanpa tahu asal muasalnya. Hanya bertuliskan "uang munggah" di cover amplop. Saat dibuka, beberapa lembar uang bergambar dua orang Proklamator menyembul dari dalamnya.
Lalu , kami bertiga kemudian tersenyum dengan menyimpan sekelumit risau.
Selasa, 25 Mei 2010
Mencari Jurus Anyar...
Dalam sebuah pekerjaan, interaksi antar lawan jenis adalah sebuah hal yang pasti. Apalagi jika pekerjaan itu layaknya didominasi oleh kaum pria. Karena tuntutan pekerjaan pula, saya sering diturunkan kelapangan dengan sejumlah pria dalam jangka waktu yang ditentukan. Layaknya sebuah interaksi, ada batasan batasan tertentu yang harus saya jaga sebagai seorang perempuan yang belum menikah.
Bukan tanpa alasan, jika saya lebih sering membahas hal hal umum dan global dibanding hal hal yang sedikit menyinggung ke daerah "rawan". Apalagi jika ditugaskan dengan sejumlah bapak-bapak yang sudah berumahtangga (omongannya...deuuuh....bikin panas kuping)..saya selalu ekstra hati hati.
Pernah, di awal awal pekerjaan, saya dihubungi oleh seorang perempuan yang mengaku sebagai istri dari salah satu klien dan menyuruh saya untuk menjauhi suaminya. Sedikit kaget dan berterimakasih di satu sisi. Berterimakasih, karena saya diingatkan untuk lebih bisa menjaga diri. Kaget, karena saya merasa bahwa apa yang saya lakukan selama ini masih dalam batas kewajaran seorang rekankerja. Tapi, saya pun tidak bisa menyalahkan sang istri, karena mungkin ini juga ada kontribusi kesalahan saya.
Sejak saat itu, untuk setiap rekan kerja berbeda gender di tim (yang selalu berganti ganti) saya memberlakukan peraturan, setiap kali saya menghubungi mereka via telepon, saya meminta untuk memasang loudspeaker. Sehingga percakapan antara saya dan mereka dapat terdengar oleh orang sekeliling. Bahkan hal yang lebih ekstrim lagi pernah saya lakukan, yaitu memaksa untuk bertemu dengan keluarga mereka masing masing dan memperkenalkan diri saya sebagai partner , berikut job desk saya di tim mereka. Hingga tak ada kecurigaan dan kecemburuan dari masing masing pihak.
Awalnya,cara itu berhasil. Sedikit demi sedikit tumbuh kepercayaan diantara pasangan mereka. Nama saya beredar di kalangan istri dan calon istri mereka, sebagai rekan kerja yang insha 4WI, lurus dan dapat dipercaya. Bukti, bahwa saya berhasil menjaga iffah diri dan keutuhan rumahtangga mereka (cieeee,,,hehe). Tapi seiring waktu, bapak bapak dan mas mas yang pernah menjadi rekan saya malah jadinya sering menghubungi dan curhat tentang permasalahan rumah tangga dan hubungan mereka. ALasannya apalagi, kalau bukan karena saya berada di lingkaran aman yang tidak dicurigai oleh pasangan mereka.
Bukan tanpa alasan saya menolak dicurhatin, saya meyakini bahwa urusan rumah tangga adalah urusan domestik yang tak seharusnya diketahui oleh oranglain diluar lingkaran. Urusan ini lebih membahayakan dibanding kecemburuan yang ditimbulkan. Jurus sementara yang saya gunakan adalah Jarang membalas sms dan Jarang mengangkat Ponsel jika dihub oleh mereka.
Entah sampai kapan jurus ini saya berlakukan...deuh...musti cari cara ampuh lainnya..
Bukan tanpa alasan, jika saya lebih sering membahas hal hal umum dan global dibanding hal hal yang sedikit menyinggung ke daerah "rawan". Apalagi jika ditugaskan dengan sejumlah bapak-bapak yang sudah berumahtangga (omongannya...deuuuh....bikin panas kuping)..saya selalu ekstra hati hati.
Pernah, di awal awal pekerjaan, saya dihubungi oleh seorang perempuan yang mengaku sebagai istri dari salah satu klien dan menyuruh saya untuk menjauhi suaminya. Sedikit kaget dan berterimakasih di satu sisi. Berterimakasih, karena saya diingatkan untuk lebih bisa menjaga diri. Kaget, karena saya merasa bahwa apa yang saya lakukan selama ini masih dalam batas kewajaran seorang rekankerja. Tapi, saya pun tidak bisa menyalahkan sang istri, karena mungkin ini juga ada kontribusi kesalahan saya.
Sejak saat itu, untuk setiap rekan kerja berbeda gender di tim (yang selalu berganti ganti) saya memberlakukan peraturan, setiap kali saya menghubungi mereka via telepon, saya meminta untuk memasang loudspeaker. Sehingga percakapan antara saya dan mereka dapat terdengar oleh orang sekeliling. Bahkan hal yang lebih ekstrim lagi pernah saya lakukan, yaitu memaksa untuk bertemu dengan keluarga mereka masing masing dan memperkenalkan diri saya sebagai partner , berikut job desk saya di tim mereka. Hingga tak ada kecurigaan dan kecemburuan dari masing masing pihak.
Awalnya,cara itu berhasil. Sedikit demi sedikit tumbuh kepercayaan diantara pasangan mereka. Nama saya beredar di kalangan istri dan calon istri mereka, sebagai rekan kerja yang insha 4WI, lurus dan dapat dipercaya. Bukti, bahwa saya berhasil menjaga iffah diri dan keutuhan rumahtangga mereka (cieeee,,,hehe). Tapi seiring waktu, bapak bapak dan mas mas yang pernah menjadi rekan saya malah jadinya sering menghubungi dan curhat tentang permasalahan rumah tangga dan hubungan mereka. ALasannya apalagi, kalau bukan karena saya berada di lingkaran aman yang tidak dicurigai oleh pasangan mereka.
Bukan tanpa alasan saya menolak dicurhatin, saya meyakini bahwa urusan rumah tangga adalah urusan domestik yang tak seharusnya diketahui oleh oranglain diluar lingkaran. Urusan ini lebih membahayakan dibanding kecemburuan yang ditimbulkan. Jurus sementara yang saya gunakan adalah Jarang membalas sms dan Jarang mengangkat Ponsel jika dihub oleh mereka.
Entah sampai kapan jurus ini saya berlakukan...deuh...musti cari cara ampuh lainnya..
Hari yang menyebalkan
Sebenernya hari ini niat mau bolos ngantor. Tapi, teringat janji ketemu dengan satu mahasiswa mengenai proposal tugas akhirnya. Ya sudah...NGANTOR laah...
Sampai jalur biasa, alias per4an supratman, jam 7.50. Tapi terhadang macet yang tiada terkira.
Jarak 1.5 km (bener nggak ya?? hehe) yang biasa ditempuh 10 menit, ternyata memakan waktu 40 menit untuk hari ini. fiyuuuhh...lambretta pisaaaannnn....
Sampai kantor, jam 8.30. Ketemu ama temen di jalan yang sama sama terlambat karena mengandalkan kendaraan umum (alasan g punya motor karena mengurangi beban emisi, cinta lingkungan, dll padahal mah..waeee...MALES yang ada..) ngebahas macet dan kemungkinann dirinya untuk beralih ke kendaraan pribadi alias motor.
Ujung ujungnya...temen saya sedikit ngomporin untuk pake motor juga ke kantor..Bingung jawabnya...(masa pagi pagi dah berantem karena hal yang ga penting..) akhirnya nyeletuk aja deh.."aku sih ga pake motor. Sama aja giliran macet mah...telat. Insha 4WI beli HELIKOPTER ajah..."
hehe..temen saya ngakak...sambil ga lupa ngejitak kepala saya..*ouch*
Sampai jalur biasa, alias per4an supratman, jam 7.50. Tapi terhadang macet yang tiada terkira.
Jarak 1.5 km (bener nggak ya?? hehe) yang biasa ditempuh 10 menit, ternyata memakan waktu 40 menit untuk hari ini. fiyuuuhh...lambretta pisaaaannnn....
Sampai kantor, jam 8.30. Ketemu ama temen di jalan yang sama sama terlambat karena mengandalkan kendaraan umum (alasan g punya motor karena mengurangi beban emisi, cinta lingkungan, dll padahal mah..waeee...MALES yang ada..) ngebahas macet dan kemungkinann dirinya untuk beralih ke kendaraan pribadi alias motor.
Ujung ujungnya...temen saya sedikit ngomporin untuk pake motor juga ke kantor..Bingung jawabnya...(masa pagi pagi dah berantem karena hal yang ga penting..) akhirnya nyeletuk aja deh.."aku sih ga pake motor. Sama aja giliran macet mah...telat. Insha 4WI beli HELIKOPTER ajah..."
hehe..temen saya ngakak...sambil ga lupa ngejitak kepala saya..*ouch*
Kamis, 22 April 2010
ocehan ga penting
Banyak teman yang "meragukan" kalau saya seorang perempuan. Maaf, bukan dalam artian negatif. Tapi mereka menyimpulkan dari beberapa sikap dan sifat yang sedikit 'nyeleneh' untuk ukuran perempuan di mata para lelaki. Saya juga tidak tahu, bagian mana yang 'nyeleneh' menurut mereka, padahal jelas jelas saya berkerudung, memakai rok, resepsi pun pake kebaya, dan mengalami siklus bulanan sebagai fitrah seorang perempuan. Tapi, mereka malah balik menyangkalnya dan memberikan predikat baru "makhluk hermaprodite"
Ya,,terserahlah,,apa kata mereka. Bagi saya, itu bukti care mereka terhadap saya. Bergaul dan berinteraksi dengan kaum adam membuat saya semakin kebal dengan caci maki dan becanda mereka yang sedikit "gila". Dan karena mereka adalah kaum yang [ingin] terlihat kuat dimata kaum hawa, maka mereka bermain dan bertindak [sedikit] kasar untuk kacamata seorang perempuan. Tapi, yaaa..itulah mereka.
Padahal, Saya tahu sekali. Bukan sekali dua kali mereka terpuruk dan menangis. Entah itu masalah dengan kaum saya sendiri, gagal memaknai hidup atau pun saat terserang syndrome kangen. hehehe..
Sekali waktu, saya pernah berbagi cerita di sela waktu luang tentang rasa lagi kangen pada ayah. Kami berdua memang sama sama kehilangan sosok itu. Ya..saya ceritakan semua hal yang berhubungan dengan beliau. Sampai ujung-ujungnya saya [terpaksa] berhenti bercerita karena tiba tiba dada saya sesak dan memaksa saya untuk melepaskan tekanan itu dengan mengubahnya menjadi air mata. hehe..
Saat semua sudah bisa saya kendalikan, saya balik bertanya padanya. Apa yang dia lakukan jika rasa kangen terhadap ayahnya muncul tak terkendali. Dia jawab : " Saya cuma duduk di sudut kamar, memeluk lutut dan membenamkan kepala. Lalu membiarkan kenangan itu menyeruak relung jiwa, dan membiarkan air mata itu menetes tanpa niat menahannya.'
woooottttt????? saya nggak percaya aja. tapi,,ya itulah lelaki. isinya sama saja ternyata. yang membedakan hanya casing dan siklus bulanan . Hehe..
Jadi, mulai saat itu saya tahu, bahwa 'makhluk hermaprodite' ini hanyalah sebuah sebutan untuk seorang teman yang bisa mereka ajak berbicara tanpa mengejek, bisa diajak sharing tanpa menganggap mereka lemah dan kehilangan muka di hadapan kaumnya sendiri. Yang begitu lekat kata "kuat".
Tapi, banyak hal yang terkadang menjadi sedikit "ganjil" di mata mereka tentang kelakuan para kaum hawa ini. tentang hal remeh temeh yang selalu kaum hawa ributkan, tentang Pre Menstruasi Syndrome (suka nanya sebenernya, kayak apa sih rasanya?? ya...susah laaah..), Dysmenorhea, Sunblock SPF 30, sampe pertanyaan bodoh yang terkadang bikin saya tertawa ngakak (ex: apa sih rasanya pake rok sebetis, emang ga kedinginan??? jawab saya : meneketehe..saya kan ga pernah pake rok sebetis). Mereka ternyata banyak ga ngerti tentang perempuan.hehe
Dan biasanya, saat saya sedang berlaku layaknya seorang perempuan,misalnya nonton DVD serial Korea atau Jepang yang bikin air mata meleleh, mereka Pasti nanya.
"apa sih enaknya nonton Film gitu?? sampe nangis2 pula?" paling saya jawab :"ya..enaknya seperti kalian nonton pertandingan bola, sampe bela belain tidur subuh.."
dan mereka cuma bisa nyengir kuda kalo saya jawab gitu.
Ngerasa kali ya?? hehe..
Ya,,terserahlah,,apa kata mereka. Bagi saya, itu bukti care mereka terhadap saya. Bergaul dan berinteraksi dengan kaum adam membuat saya semakin kebal dengan caci maki dan becanda mereka yang sedikit "gila". Dan karena mereka adalah kaum yang [ingin] terlihat kuat dimata kaum hawa, maka mereka bermain dan bertindak [sedikit] kasar untuk kacamata seorang perempuan. Tapi, yaaa..itulah mereka.
Padahal, Saya tahu sekali. Bukan sekali dua kali mereka terpuruk dan menangis. Entah itu masalah dengan kaum saya sendiri, gagal memaknai hidup atau pun saat terserang syndrome kangen. hehehe..
Sekali waktu, saya pernah berbagi cerita di sela waktu luang tentang rasa lagi kangen pada ayah. Kami berdua memang sama sama kehilangan sosok itu. Ya..saya ceritakan semua hal yang berhubungan dengan beliau. Sampai ujung-ujungnya saya [terpaksa] berhenti bercerita karena tiba tiba dada saya sesak dan memaksa saya untuk melepaskan tekanan itu dengan mengubahnya menjadi air mata. hehe..
Saat semua sudah bisa saya kendalikan, saya balik bertanya padanya. Apa yang dia lakukan jika rasa kangen terhadap ayahnya muncul tak terkendali. Dia jawab : " Saya cuma duduk di sudut kamar, memeluk lutut dan membenamkan kepala. Lalu membiarkan kenangan itu menyeruak relung jiwa, dan membiarkan air mata itu menetes tanpa niat menahannya.'
woooottttt????? saya nggak percaya aja. tapi,,ya itulah lelaki. isinya sama saja ternyata. yang membedakan hanya casing dan siklus bulanan . Hehe..
Jadi, mulai saat itu saya tahu, bahwa 'makhluk hermaprodite' ini hanyalah sebuah sebutan untuk seorang teman yang bisa mereka ajak berbicara tanpa mengejek, bisa diajak sharing tanpa menganggap mereka lemah dan kehilangan muka di hadapan kaumnya sendiri. Yang begitu lekat kata "kuat".
Tapi, banyak hal yang terkadang menjadi sedikit "ganjil" di mata mereka tentang kelakuan para kaum hawa ini. tentang hal remeh temeh yang selalu kaum hawa ributkan, tentang Pre Menstruasi Syndrome (suka nanya sebenernya, kayak apa sih rasanya?? ya...susah laaah..), Dysmenorhea, Sunblock SPF 30, sampe pertanyaan bodoh yang terkadang bikin saya tertawa ngakak (ex: apa sih rasanya pake rok sebetis, emang ga kedinginan??? jawab saya : meneketehe..saya kan ga pernah pake rok sebetis). Mereka ternyata banyak ga ngerti tentang perempuan.hehe
Dan biasanya, saat saya sedang berlaku layaknya seorang perempuan,misalnya nonton DVD serial Korea atau Jepang yang bikin air mata meleleh, mereka Pasti nanya.
"apa sih enaknya nonton Film gitu?? sampe nangis2 pula?" paling saya jawab :"ya..enaknya seperti kalian nonton pertandingan bola, sampe bela belain tidur subuh.."
Ngerasa kali ya?? hehe..
Langganan:
Postingan (Atom)