Tampilkan postingan dengan label keruh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keruh. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Januari 2011

Hold a Space...

-Sometimes the most loving thing you can do is hold a space for someone while they are angry & not react-


Semua orang tahu -dan saya pun menyadari- bahwa saya adalah tipikal orang dengan ritme pergerakan yang cenderung tinggi. Apapun yang selama ini dilakukan, cenderung diselesaikan dengan segera. Jika saya merasa hal yang saya kerjakan bisa selesai dalam 3 hari, maka sebelum tenggat berlaku, maka saya harus bisa menyelesaikannya.

Orang juga mengenal bahwa saya adalah tipikal orang dengan level Ramai Tingkat Tinggi , dengan kata lain, cenderung cerewet.

Maka, bisa dibayanngkan jika saya bertemu dan berpasangan dengan orang yang memiliki tipe yang amat sangat berbanding terbalik.  Dapat dipastikan bahwa akan terjadi keributan. Ya, saya akan menjadi orang yang paling menyebalkan sedunia. Kenapa? Karena saya akan berusaha sekuat tenaga mencapai tenggat yang saya tetapkan. Jika orang tersebut belum menyelesaikan, maka dapat dipastikan saya akan amat sangat cerewet !! Omelan saya akan terdengar setiap saat diseantero jagat.  Entah pagi, siang, sore bahkan malam. Dan semua akan berhenti jika tenggat itu sudah selesai.

Ini pula yang  terjadi, saat saya bertemu dengan seorang bertipe lambat dan cenderung pendiam. Entahlah, untuk satu hal -yang menurut saya gampang- kami harus beradu argumen dan bertengkar beberapa kali sebelum mencapai kata sepakat.

HIngga satu saat,  dia sudah terlampau muak dengan ritme kecepatan bergerak saya dan juga sifat saya yang cerewet lalu tiba tiba saja mandeg di tengah jalan. Tidak mau bergerak sama sekali. Berkali kali saya telpon, dan SMS..selalu tak berbalas.

Saya hampir hilang kesabaran. Sampai satu titik, saya membaca quote diatas. Bahwa mungkin saya yang harus memberi ruang pada orang yang mungkin sedang marah terhadap saya. Mungkin saat ini saya harus menurunkan ritme dan sejenak berdiam diri.

ya..saat ini saya menunggu. Hanya menunggu. Berharap semua hal kembali menjadi baik seperti sediakala dan kembali bergerak bersama.. menuju satu titik yang dituju.
amin.



Rabu, 15 Desember 2010

Sebegitu sulitnya-kah (berlaku) jujur???

Ujian Tengah Semesteran anak anak usai. Berharap tidak ada kejadian curang di semester ini, tapi jauh panggang dari api. Kenyataannya begitu banyak anak anak yang masih berlaku curang.
Rata rata yang berlaku curang adalah anak anak yang duduk di semester awal lalu disusul oleh anak yang duduk di semester (yang tak ber..) akhir.

Yang sebelnya lagi, mereka masih menggunakan cara konvensional. ya...nulis di telapak tangan, nyelipin kertas A5 di paha, nyimpan kertas di bawah lembar jawaban, sampai nyimpen rumus di tempat pinsil.  Strateginya udah bisa kebaca ama lawan kan??

Setiap hari ada saja kasus anak yang kena. Yang paling mengesalkan adalah pelaku kecurangan ini adalah anak semester 1, alias anak baru. Saya sampai berfikir, jangan jangan  habit ini sudah mengakar di sekolah. Dan menjadi hal yang lumrah saat ujian.

Awalnya saya tak mau berfikir jelek. Tapi saya teringat tentang kasus kebocoran soal ujian akhir nasional. Belum lagi kunci jawaban yang beredar saat ujian berlangsung. Apakah ini sudah membudaya??

Teramat susah memutus habit yang sudah terlanjur mendarah daging. Sementara sanksi juga tetap diberlakukan seberat beratnya. Mulai menghadap  dekan hingga terancam tidak lulus mata kuliah ybs. Dua tahun sudah saya memberlakukan hal ini. Tapi kejadian tetap berulang di anak anak tingkat awal. Halo ibu dan bapak guru SMA/SMU/SMK ?? Tolong lebih Concern lagi..

Karena saya / Kami teramat lelah mengurusi habit ini. Jangan sampai kejadian hari ini terulang lagi. Saat saya harus memotong nilai laporan 2 orang mahasiswa sebesar 70%, karena kasus Copy Paste alias plagiat. Dan yang teramat disayangkan lagi, salah satu dari mereka adalah mahasiswa yang berpredikat terpuji.

Saya teramat marah, karena mahasiswa ini membolehkan temannya menjiplak. Sampai saya harus menceramahi mereka panjang lebar tentang Hak Kekayaan Intelektual (Haki), tentang betapa berharganya apa yang ada di otak mereka. Gosh..!! so tired..

Sulit..sulit sekali menemukan kejujuran di setiap lini, sekalipun di sebuah institusi bernama pendidikan, tempat dimana kita semua berharap lahirnya intelektual muda yang cerdas, bernas, dan jujur..

Rabb..mengapa begitu sulit untuk jujur??


Jumat, 26 November 2010

Moga ini bukan keluh

Saya sedang lost oriented. Entahlah..mendadak saja semua hal berasa memburu. Saya tersadar ternyata begitu banyak hal yang ingin saya capai tapi ternyata keterbatasan dan takdirNya belum berpihak pada saya. Padahal saya sudah  berusaha menyelesaikannya satu persatu. Tapi, sepertinya tak ada yang berjalan sesuai harapan.

Pertengahan 2009, saya berusaha mendapatkan sebuah beasiswa untuk sebuah program short course di salah satu negeri di benua eropa. Alhamdulillah semua berjalan lancar mulai surat rekomendasi dan administrasi.  Tapi saya gagal di skor Toefl ITP yang kurang sedikit. Saya coba menunda hingga tahun 2010 ini, dengan harapan saya bisa mengambil kursus toefl terlebih dahulu untuk memperbaiki skor.

Tapi, belum sempat saya ambil kursus itu, pekerjaan kantor tiba tiba saja menumpuk dan menggila. Awal tahun hingga tengah tahun 2010, uruusan kantor  tak ada beresnya. Akibatnya, bulan juni saya bolak balik ke dokter karena badan saya sama sekali ga sehat bahkan cenderung ambruk. Dokter menyarankan saya untuk banyak istirahat, dan saya turuti, dengan konsekuensi saya harus mengurangi kegiatan.

Tiba bulan Agustus, saya kepentok dengan final project yang harus segera kelar di oktober ini. Tapi entah kenapa, otak saya mampet semampet mampetnya. Tidak ada ide sama sekali. Mungkin pengaruh dari tugas kantor yang kemarin sempat saya pending mulai menderas kembali. Setumpuk data dan  presentasi yang menuntut saya harus keluar kota, kembali memecah konsentrasi saya. Dan akhirnya skala prioritas itu mengharuskan saya memilih pekerjaan.

Tak terasa, bulan oktober tiba dan saya tetap belum menyelesaikan nfinal project. Otomatis, saya harus memperbaharui jadwal dan konsekuensinya adalah : kembali membayar karena sudah jatuh tenggat. Saya sibuk memaki diri yang terlalu lalai dan tak bisa membagi waktu. Saat itu saya berharap satu hari lebih dari 24 jam . Tapi, apa hendak dikata, saya tak bisa mengembalikan waktu yang sudah saya lewati.

Sedikit demi sedikit, saya coba mengerjakannya. Saya ngebut mencari referensi ilmiah, dan memacu diri untuk lebih giat lagi dalam final project. Targetnya, bulan desember saya bisa survei berikut sampling dan Februari 2011 insha 4WI kelar (aminn). Tapi, sampling terancam tertunda karena cuaca yang tak bersahabat sama sekali. Kembali kebingungan melanda.

Desember menjelang...dan saya masih kebingungan..
Selasa, 27 April 2010

Keruh

Kamis, seisi penghuni rumah jatuh sakit. Bikin saya panik dan riweuh. Aktifitas saya pun lagi dalam puncak puncaknya. Hingga sore, saya baru sadar bahwa belum ada satupun remah nasi yang mengisi perut. Tapi tak terasa lapar sama sekali. AKhirnya saya isi perut dengan sepotong roti dan sebotol minuman dingin. Lalu pergi ke kampus lain untuk ketemu dosen. Tapi, begitu sampai ternyata dosen ybs sedang keluar kota. Ya Allah...saya hanya tertunduk lunglai. Ingin menangis. Betapa semua kejadian ini begitu membuat saya lelah.. Usai maghrib, saya berjalan kaki menyusuri jalanan menuju rumah. Tak hendak menaiki sebuah kendaraan umumpun. Saya hanya ingin sendiri. Merenungi semua kejadian yang menurut saya begitu tidak masuk akal.

Sabtu siang, sebuah SMS masuk dari seorang teman baik. Isinya menyuruh saya segera mengkonsumsi nasi, mengingat kondisi saya yang sebentar lagi menghadapi ujian. Entah kenapa, tiba tiba saja sms itu berujung emosional. Mungkin kondisi kami saat itu sama sama sensitif. Tapi saya segera meminta maaf dan menganggap semua nya beres. Menjelang malam usai shalat isya, karena lelah, saya langsung terbaring dan mematikan semua alat komunikasi.       

Hingga ahad pagi, semua hal memburuk. diawali oleh SMS saya yang menanyakan kondisi teman  via sms. Tapi hingga malam pun,. sms saya tak berbalas. Saya coba berprasangka baik, mungkin dia tidak memiliki pulsa untuk menjawab.

Senin pagi, saya message dia via Ym. Tapi, kembali tak berbalas. Hanya 30 menit saya online. dan memutuskan untuk menyudahinya. Kewajiban saya untuk meminta maaf sudah saya laksanakan. Tak lama saya harus mengirimkan tulisan yang rencananya akan saya publish di sebuah media cetak. Begitu saya buka filenya di Flash Disk, ternyata tak bisa terbaca. Damaged. Allahu Akbar...apalagi ini?? saya coba recovery data terakhir, tetap tidak bisa. sia sia sudah begadang hingga jam 1 dinihari. Lalu mata saya berkaca kaca. Hati saya keruh mengingat semua kejadian yang begitu beruntun dan tak terduga. Pukulan demi pukulan membuat saya limbung. Bahkan seorang teman baikpun, tempat saya selama ini berbagi cerita, mendadak terlukai dan menjauh.

Tekanan di dada tak bisa ditahan. Menyadari begitu banyak hal yang luput dari hadapan saya. Bergegas berwudhu untuk shalat dhuha. Di sela sujud itu, tekanan di dada saya lepaskan hingga menganak sungai. Mendadak Semua perbendaharaan kata hilang, lenyap. Hanya menyisakan isakan tertahan. Untuk kemudian hanya lirih suara yang menggema, merintih dihadapanNya.

Saya teramat yakin, Dia tahu kapasitas makhlukNya..sebagaimana DIa ungkapkan di QS Albaqarah, 2:286.


22-26 April 2010                                         
 

Template by Web Hosting Reviews