Tampilkan postingan dengan label nikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nikah. Tampilkan semua postingan
Senin, 26 Juli 2010

Wedding is a BIG THING

Satu tema yang paling sering dihindari untuk dibahas adalah PERNIKAHAN. beugh..wedding is a BIG THING. Males bahasnya, karena belum ada calon dan berat uuyy...
Tapi karena semakin banyak permintaan dan pertanyaan dari orang terdekat plus rekan sejawat dan yang butuh pernyataan,, maka sedikit memberanikan diri. Bismillah..

Bukan pernikahan yang ditanyakan sebenarnya, Tapi lebih ke individu alias calon pendamping yang secara marathon terus menerus dipertanyakan. Penyebabnya adalah, karena hampir di setiap acara pernikahan kerabat, saya selalu tampil solo. Awalnya bukan hal yang sulit untuk membuat alasan. Tapi seiring waktu, terlalu banyak alasan yang tak masuk akal (atau bahkan menurut mereka terlalu masuk akal ya??) yang ujung ujungnya bikin bete. Alasan alasan itu selalu dipatahkan oleh sang penanya.

Alasan yang dipatahkan adalah jika saya berkata bahwa "belum ada calon". Pasti (rata rata sih) penanya selalu balik berargumen.."jangan terlalu milih milih ah..." #what?? Hellloooowww??? Milih?? kesannya banyak banget yang antri ya buuuu???#

Jadi apa sebenernya??? okelah Oom, Tante, Bude, Pakde, rekan sekalian...saya akan mencoba menjawabnya. *serieus yeuh*

Bagi saya, menikah adalah hal yang PENTING. Menyangkut individu yang berinteraksi didalamnya. Maka ada visi, misi yang harus jelas. Saya tidak mau menikah karena Umur saya sudah pantas, atau Mumpung ada orang yang mau. Nggak. Sama sekali nggak.

Saya harus merasakan satu kenyamanan dalam interaksi itu. Saya butuh orang yang dapat menampung semua bentuk ekspresi saya sebagai individu yang utuh, tidak parsial. Yang dengannya saya bisa menjadi individu yang lebih baik secara keseluruhan.

Saya akan mencintai orang yang selamanya (insya 4WI) menjadi suami saya. Mencintainya sehingga membuat saya semakin produktif, lebih berenergi dalam semua aktifitas. Mencintai suami tidak membuat saya menjadi sosok yang lemah , tak berdaya ataupun tidak mandiri. Tapi sebaliknya, mencintainya membuat saya menjadi sosok yang kokoh, produktif dan lebih kontributif dalam beramal, matang dan lebih bijak dalam  bersikap.

Karena bagi saya seorang suami adalah teman sepanjang umur saya. Maka cinta saya padanya harus memiliki kekuatan untuk saling menggerakkan dan memotivasi, lalu membuat kita berdua berkembang dan menjadikan kita semakin energik,produkif dan kontributif di bidang apapun kita bergerak. Bukan lagi meng-kebiri setiap potensi yang dimiliki masing masing.


Untuk saya, layaknya seorang suami juga berlaku sebagai seorang sahabat dan rekan. Tidak menjadikan istri sebagai subordinat di ranah domestik. Tugas rumah tangga adalah sebuah kerja bersama yang memiliki konsekuensi tanggung jawab bersama. Yang memberikan ruang sebesar besarnya untuk setiap kebaikan diri.

Dan yang tak kalah penting, bersamanya saya bisa menghabiskan waktu dengan hal hal yang berbau tidak penting tapi teramat sangat menyenangkan buat saya. Seperti menikmati eskrim ditengah hujan, memandangi kerlip bintang dilangit luas, mentertawakan kebodohan kebodohan yang manusiawi, berceloteh hingga dinihari, dan masih mau menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur saat saya tak dapat memejamkan mata.

Jadi Oom, Tante, Bude, Pakde, rekan sekalian..Saat ini saya belum menemukan INDIVIDU yang pas. Semoga aja nggak lama lagi. *wink wink*

Sudahlah..CASE CLOSED saudara saudara...





Jumat, 20 Februari 2009

{Curhat} Teman ku yang Cantik Jelita Nan Pintar..

Pagi ini dikoridor kantor,belum juga masuk ruangan udah ngebahas hal yang bikin kening berkerut. Berdua bareng teman saya yang cantik jelita nan pintar, awalnya ngbahas nilai UAS anak-anak yang nggak banget laah. Tapi tiba-tiba tema bahasannya melebar ke arah yang lebih serius dan berat.

 

Di Jurusan dimana kami  beraktivitas, ada 4 orang perempuan yang belum menikah,termasuk saya salah satunya. Satu orang yang menonjol adalah teman saya yang cantik jelita nan pintar ini. Berpendidikan Master dari eropa, Good Looking, berkerudung, dan good attitude. Saya ingat, sebelum dia pergi untuk mengambil gelar masternya, ada kekhawatiran yang amat tinggi terhadap saya. Dia takut menyandang gelar lajang sendirian di jurusan kami saat dia kembali kelak. Dan setelah dia kembali, status saya dan dia masih tetap sama. LajangJ.

 

Hingga pagi ini, dengan usia dan kondisi yang kurang lebih sama, tiba-tiba dia bertanya tentang rencana saya menikah ditahun ini. Ada ketakutan yang sama seperti sebelum keberangkatan dia ke luar negeri itu yang saya lihat di matanya, tersirat di lirih ucapannya. Dia bilang bahwa kedua orangtuanya hampir 2 bulan ini mem-push-nya untuk segera menikah. Dan saya tahu, dia belum punya calon pendamping.

 

Dan saat saya jawab Insya Allah, untuk pertanyaan mengenai rencana itu, tiba-tiba saja, air mukanya kembali keruh. Lalu saya sambung dengan ucapan, saya juga tidak tahu dengan siapa saya akan menikah. Jika saat ini saya sedang berikhtiar untuk ke arah sana, dengan perantaraan orang yang saya percaya, artinya itu adalah sebatas menunaikan kewajiban saya sebagai seorang manusia yang teramat lemah.

 

Air muka nya kembali keruh. Berfikir. Mencerna. Apa yang dipikirkannya,saya tidak tahu. Dan saya juga teramat sangat tahu, bukan hal yang sulit baginya untuk menikah. Banyak laki-laki yang menyukainya, many people adore her. Tidak perlu mencari, justru dialah yang dicari. Tapi saya juga tahu, bukan itu masalahnya. Dan inilah benteng terkuat yang tidak dapat ditembus oleh laki-laki yang selama ini berniat meminangnya. Teramat sangat sulit. Terkecuali teman saya yang cantik jelita nan pintar inilah yang mendobraknya. Tapi itupun kecil kemungkinannya. Karena benteng itu adalah aqidah. Walaupun dia berkerudung tapi aqidah kami berbeda. ya, aqidah dia menyimpang, sesat karena mengakui ada nabi lain sesudah Rasulullah Saw.

 

Teman saya  yang cantik  jelita nan pintar itu pun lalu naik ke lantai dua. Membawa segenap keresahan, kegalauan juga mimpinya tentang sebuah pernikahan yang selama ini diimpikannya.

Selasa, 05 Februari 2008

Cerita..(tentang n*k*h)..

Akhirnya... Hampir sebulan "menghilang "dari dunia persilatan... kembali lagi niy... ga kerasa aja..sebulan kemaren rariweuh,,ga sempet buka-buka imel,komo deui MP..!!

Critanya, adik sepupu nikah tanggal 26 januari kemaren. kita semua sempet kaget juga..ga ada kabar kabari taunya..nikah !! Prosesnya sedikit Ajaib !! hehe.. ga deng.. Ajaib menurut ukuran orang jaman sekarang yang rada-rada suka banyak berargumen dan tidak percaya pada aturan baku islam. Hehe.. gaya pisan nya??

ya..prosesnya mulai dari pertengahan nov 07, lalu desember 07 di khitbah,,dan januari menikah.. Alhamdulillah. SEbenernya kalau mau jujur, semua keluarga besar kami sempet ketar-ketir dengan keputusannya yang sedikit "mendadak". Semua kekhawatiran para "sesepuh" rata-rata berasal dari kurang nya waktu untuk saling mengenal. ntar nyesel..ntar ketauan jeleknya ..ntar KDRT..wah..kalau mikir gitu mah ntar ntar aja kalee..hehe

Tapi, syukurlah..dengan dukungan kami "generasi muda" yang relatif lebih tahu aturannya,,akhirnya restu pun didapat. Begitu restu didapat..(walau dengan syarat..) mulailah episode yang paling riweuh..

riweuh karena ternyata semua pihak yang terkait dengan pernikahan ini menjadi begitu sibuk, mendadak menjadi sensitif (terutama orang tua mempelai), dan begitu banyak yang harus dikompromikan. Mulai dari rancangan acara akad nikah, upacara adat, siraman,pelaminan,undangan, makanan, suvenir dan pakaian pengantin.

Tapi sayang ,,ada hal yang terlewat..Syndrome Pra Nikah..!!! Kenapa yang ini kelewat ya?? Baru ngeh saat akhir desember sang mempelai perempuan menghubungi dan minta ditemani. Taernyata..Acara ngobrol-ngobrol berubah menjadi acara curhat dan ujung ujung nya terlontarlah kalimat " ga yakin untuk menikah.." Gubraakk..!!

Waduuh...kok jadi rumit gini ya? Ternyata proses untuk meyakinkan itu butuh waktu. Wajar saja,.. karena toh nanti dia akan menjalani seumur hidup (insya allah)dengan orang yang sama sekali baru. Asing.

Maka..jangan tinggalin calon mempelai dalam kesendirian. Jangan malah sibuk mempersiapkan sarana Fisik pesta tapi,,yang tidak kalah penting adalah dampingi calon mempelai,,jadilah telinga yang selalu mendengar kerisauan, kegalauan, kegamangan untuk melangkah ke gerbang pernikahan. Intinya..a shoulder to cry on..

bagaimanapun..SEmuanya sudah terlewati.. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jamaa bainakuma fi khair...Amiin (untuk Niar & Yudi )

 

Template by Web Hosting Reviews